EkonomiKabupaten Agam

KWTH-AWR Malalak Barat Produksi Sirup Kulit Manis Malbar Cassiavera

702
×

KWTH-AWR Malalak Barat Produksi Sirup Kulit Manis Malbar Cassiavera

Sebarkan artikel ini
Sirup Kulit Manis Malbar Cassiavera
Sirup Kulit Manis Malbar Cassiavera. (amc)

AGAM, Mjnews.id – Kelompok Wanita Tani Hutan-Aktivitas Wanita Rajin (KWTH-AWR) adalah sekumpulan kaum ibu yang berbagi asa kesejahteraan sektor agraris di bumi Kabupaten Agam. Kelompok ini lahir ketika petani menjerit akan susahnya akses pemasaran kulit manis dan rendahnya nilai jual. Bagaimana perjalanannya?

KWTH-AWR merupakan perkumpulan resmi kaum hawa di Nagari Malalak Barat, Kecamatan Malalak. Keberadaan puluhan kaum ibu peduli ini dalam menggerakkan perekonomian keluarga dan masyarakat setempat patut diacungi jempol.

ADVERTISEMENT

KWTH-AWR lahir pada Juli 2021 silam. Meski baru seumur jagung, kiprah kelompok ini mampu memberi spirit baru bagi petani di Malalak Barat dalam mengatasi kelumit pemasaran komoditi kulit manis yang menjadi andalan hasil perkebunan masyarakat di nagari itu.

Dimotori sebanyak 21 kaum ibu, KWTH-AWR mencoba mengangkat martabat kulit manis lewat inovasi olahan produk minuman berbahan baku tanaman rempah bernama latin Cassiavera itu. 

“Berhubung komoditi utama petani di sini adalah kulit manis, maka kelompok fokus pada pengembangan komoditi ini. Bagaimana kualitas tanaman meningkat, biaya produksi tidak tinggi, serta bagaimana petani bisa mencari alternatif lain, selain menjual kulit manis dalam bentuk bahan mentah,” kata Penggagas sekaligus Pembina KWTH-AWR, Fadli Rahmadi, S.Hut, Rabu (9/2/2022).

Fadli menjelaskan, kemunculan KWTH-AWR beranjak dari potensi pertanian di Malalak Barat yang belum tergarap maksimal.

Padahal menurutnya, nagari ini menyimpan potensi pertanian yang menjanjikan. Diberkahi tanah yang subur dan hutan yang luas.

Terlebih metode yang diterapkan petani dalam mengolah lahan masih memakai gaya tradisional secara parsial. Sehingga hasil pertanian dan perkebunan yang diperoleh jadi monoton atau tak jauh-jauh dari penghasilan sebelumnya.

Meski sebelumnya kerap rugi dengan harga jual acap merosot, namun gaya tradisional itu tetap dipertahankan para petani lokal. Tak ada perubahan. Sehingga memantik pihaknya untuk merubah. Memperbaiki cara bertani dengan harapan memperbaiki penghasilan mereka.

KWTH-AWR ulasnya, menjadi wadah bagi wanita tani untuk berproses. Mulai dari pengayaan dan peningkatan kapasitas bercocok tanam, memproduksi pupuk sendiri, sampai kepada manajemen usaha kelompok. Tidak hanya untuk pertanian kelompok, akan tetapi pengetahuan yang didapat nantinya juga dapat diaplikasikan pada areal pertanian individu.

“Banyak hal yang melatarbelakangi lahirnya kelompok wanita tani hutan ini. Berangkat dari kondisi petani yang belum mampu menguasai harga pasar. Sehingga dengan dibentuknya kelompok, para petani diharapkan mampu menguasai pertanian mulai dari hulu hingga hilir, disitulah baru petani bisa menemui kesejahteraan,” ujar orang sumando Malalak Barat itu.

Melihat kondisi yang demikian, Alumnus Fakultas Kehutanan UMSB itu berinisiatif memaksimalkan potensi tersebut. Menurutnya, pemanfaatan dan pengembangan potensi pertanian akan lebih efektif jika dilakukan dengan cara pemberdayaan kelompok.

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *