Di Dharmasraya, profesi wartawan tumbuh bersama denyut daerah yang terus berkembang. Mereka hadir di tengah banjir, di ruang sidang, di pelosok nagari, di lapangan sepak bola kampung, hingga di kantor pemerintahan. Mereka menulis cerita tentang pembangunan, kritik sosial, harapan masyarakat kecil, sampai suara-suara yang sering tidak terdengar.
Namun sering kali, wartawan lupa menuliskan kisah perjuangan mereka sendiri.
Padahal di balik setiap berita yang terbit, ada tenaga, waktu, bahkan pengorbanan keluarga yang jarang diketahui masyarakat. Ada wartawan yang tetap berangkat liputan meski kendaraan rusak. Ada yang tetap menulis di tengah keterbatasan honor. Ada pula yang bertahan karena percaya bahwa profesi ini masih memiliki kehormatan.
Karena itu, aklamasi yang terjadi di tubuh PWI Dharmasraya sesungguhnya bukan sekadar proses memilih ketua. Ia adalah simbol bahwa persaudaraan masih bisa mengalahkan ego. Bahwa demokrasi tidak selalu harus gaduh. Bahwa mufakat masih mungkin lahir dari hati yang sama-sama ingin menjaga organisasi.
Ketua PWI Sumatera Barat, Widya Nafis, yang hadir langsung dalam konferensi itu pun memberikan apresiasi atas jalannya acara yang berlangsung kondusif. Kehadiran pengurus provinsi menjadi pertanda bahwa PWI Dharmasraya masih dianggap penting dalam peta organisasi wartawan di Sumatera Barat.
Tantangan bagi PWI Dharmasraya
Kini, harapan tentu berada di pundak kepengurusan baru. Roni Aprianto tidak hanya dituntut menjaga kekompakan organisasi, tetapi juga menjawab tantangan zaman. PWI harus mampu melahirkan wartawan yang kompeten, profesional, dan tetap berpihak pada kepentingan masyarakat banyak.
Sebab di era media sosial yang penuh kebisingan informasi hari ini, masyarakat semakin membutuhkan wartawan yang bekerja dengan hati nurani.
Dan mungkin, dari aula sederhana di Polres Dharmasraya pagi itu, sebuah pesan penting sedang dititipkan kepada semua insan pers, bahwa organisasi akan tetap kuat bukan karena besarnya gedung atau banyaknya jabatan, tetapi karena persaudaraan yang dijaga dengan ketulusan. Di sanalah demokrasi badunsanak menemukan maknanya.
(sutan)












