Mahyeldi menambahkan, berbagai isu keagamaan yang muncul di tengah masyarakat membutuhkan jawaban yang berlandaskan metodologi fikih yang kuat, argumentatif, dan berorientasi pada kemaslahatan. Karena itu, forum-forum ilmiah seperti Nadwah Fiqhiyyah dinilai penting untuk memperkuat kapasitas para dai dan akademisi dalam memberikan bimbingan kepada masyarakat.
Selain itu, ia menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter merupakan salah satu prasyarat penting dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Menurutnya, penguatan nilai-nilai agama harus berjalan seiring dengan pembangunan di bidang pendidikan serta penguatan ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan nasional.
“Kita ingin berkontribusi untuk Indonesia Emas 2045. Karena itu, pembangunan karakter harus berjalan seiring dengan penguatan ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan nasional,” ujarnya.
Anggota DPR RI, Rahmat Saleh yang turut hadir menyampaikan dukungannya terhadap penyelenggaraan Nadwah Fiqhiyyah. Ia berkomitmen mendorong keberlanjutan program penguatan kajian keislaman tersebut melalui agenda resesnya agar manfaatnya semakin luas dirasakan masyarakat.
Sementara itu Wakil Ketua IKADI Sumbar, Muhammad Rido menyampaikan apresiasi kepada Syekh Abdul Al-Razzaq An-Najm yang berkenan hadir memenuhi undangan setelah menempuh perjalanan panjang dari Damaskus menuju Padang. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Mahyeldi atas dukungan penuh terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Kami bersyukur Buya Gubernur memberikan perhatian besar terhadap kegiatan ini. Dukungan pemerintah menjadi bukti nyata bahwa penguatan ilmu syariah merupakan bagian penting dalam pembangunan masyarakat Sumatera Barat,” ujarnya.
Ketua Panitia, Dr. Defrinal, MA, menjelaskan bahwa Nadwah Fiqhiyyah diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri atas dosen, guru, pengasuh pondok pesantren, serta dai dari seluruh kabupaten dan kota di Sumbar.
Menurutnya, jumlah peserta dibatasi agar proses pembelajaran berlangsung lebih efektif. Selama lebih dari tujuh jam, peserta mengikuti pembahasan metodologi fikih kontemporer secara mendalam dengan penyampaian materi langsung menggunakan bahasa Arab.
“Forum ini dirancang untuk memperdalam kapasitas para dai, akademisi, dan pendidik dalam memahami persoalan fikih kontemporer langsung dari ahlinya,” kata Defrinal.
Melalui penyelenggaraan Nadwah Fiqhiyyah Internasional ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat bersama IKADI berharap lahir semakin banyak dai dan akademisi yang memiliki kedalaman ilmu syariah, mampu menghadirkan dakwah yang menyejukkan, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta menjadi perekat persatuan umat dalam kehidupan bermasyarakat. (adpsb)






