ADVERTISEMENT
Kemensos

Mensos Ajak Tunawisma Tinggal di Rusun

77
×

Mensos Ajak Tunawisma Tinggal di Rusun

Sebarkan artikel ini
Mensos Ajak Tunawisma Tinggal Di Rusun
Mensos Tri Rismaharini Ajak Tunawisma Tinggal di Rusun Kemensos. (f/humas)

Mjnews.id – Saat melewati flyover Kampung Melayu, Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini melihat banyak tunawisma yang berkumpul. Sontak Mensos langsung menerjunkan staff untuk melakukan asesmen pada Kamis 18 Januari 2024 kemarin.

Kemudian pada Jumat 19 Januari 2024 hari ini, Mensos berdialog dengan para tunawisma tersebut di Gedung Aneka Bhakti Kemensos.

ADVERTISEMENT
Scroll ke bawah untuk lihat konten

Dengan pendekatan personal, Mensos menanyai satu per satu masalah dan keinginan para tunawisma yang kebanyakan adalah pemulung.

Ada beberapa opsi yang ditawarkan. Di antaranya adalah mendapatkan pelatihan kewirausahaan di sentra Kemensos, pulang ke kampung halaman, atau tinggal di rusunawa milik Kemensos.

Mensos menekankan, yang bisa tinggal di rusunawa hanya mereka yang memiliki KTP DKI Jakarta dan sudah berkeluarga.

“Rusun untuk keluarga. Kalau nanti sekolah anak-anak jauh, kami bisa bantu pindah sekolah,” kata Mensos.

Baca Juga  Kemensos dan Komisi VIII DPR Sinergi Kawal Bansos di Sulawesi Utara

Dari 21 orang yang di asesmen, tak sampai sebagian yang memiliki kartu identitas. Bagi mereka, Mensos menawarkan kembali ke kampung halaman dan berwirausaha, dan akan dipantau perkembangan usahanya oleh Sentra Kemensos terdekat.

Dikatakan Mensos, sukses tak selalu harus di Jakarta, di kampung juga bisa sukses.

“Kami siap antar bagi bapak ibu yang mau kembali ke kampung,” ujar Mensos membujuk agar masyarakat tanpa kartu identitas mau kembali ke daerah asal.

Respon yang di dapat pun beragam. Ada yang langsung setuju kembali, ada yang masih ingin di Jakarta dan tidak mau kembali.

Untuk itu, Mensos menawarkan untuk tinggal dan mendapatkan pelatihan di Sentra Kemensos di Jakarta, terutama bagi yang sudah lansia.

Baca Juga  Mensos Serahkan Kapal Fiber Hingga Pemenuhan Gizi Anak di Agats, Papua

“Tua harus ada tabungan. Kalau di sentra semua ditanggung. Misalnya kalau sakit, KTP gak ada, gimana caranya mau berobat,” kata Mensos.

Salah satu tunawisma asal Surabaya, Ubay (83), mengaku akan mengikuti saran dari Mensos. Ia telah tinggal di Jakarta sejak kecil, namun beberapa tahun belakangan ini ia hidup menggelandang dan tidur di taman.

Sehari-hari, ia bekerja sebagai pemulung dengan penghasilan Rp35.000 – Rp50.000 per hari. Kakek yang akrab disapa Pak Uban ini berharap bisa kembali ke Surabaya.

“Saya ingin kembali. Ingat alamatnya (rumah di Surabaya), tapi lupa nomor rumahnya,” katanya kepada Mensos.

Mensos langsung menghubungi koleganya di Surabaya untuk membantu menemukan keluarga Ubay. Harapannya Ubay bisa kembali ke Surabaya.

Kami Hadir di Google News