Nasional

MAI dan GNTI Tolak Rencana Jepang Buang Limbah Nuklir ke Samudera Pasifik

182
×

MAI dan GNTI Tolak Rencana Jepang Buang Limbah Nuklir ke Samudera Pasifik

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum MAI, Prof. Rokhmin Dahuri (tengah) bersama Sekjen MAI, Denny D Indrajaya dan Sekjen GNTI M. Amma Bonapon
Ketua Umum MAI, Prof. Rokhmin Dahuri (tengah) bersama Sekjen MAI, Denny D Indrajaya dan Sekjen GNTI M. Amma Bonapon. (f/ist)

Mjnews.id – Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) dan Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) menolak rencana pemerintah Jepang untuk membuang limbah nuklir dari bekas Reaktor Nuklir Fukushima ke Samudera Pasifik.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat MAI, Prof. Dr. Rokhmin Dahuri, MS, menyatakan penolakannya dengan alasan bahwa limbah cair nuklir mengandung bahan radioaktif Tritium, Cesium-137, dan Carbon-14.

Menurut informasi dari Tokyo Electric Power Company (TEPCO), limbah cair nuklir yang akan dibuang memiliki konsentrasi Cesium-137 sebesar 18.000 becquerel per kilogram. Konsentrasi ini 180 kali lipat lebih besar dari ambang batas yang diizinkan dalam ekosistem laut.

Rokhmin Dahuri menekankan bahwa limbah cair nuklir tersebut akan membahayakan ekosistem laut dan dapat menyebabkan kematian ikan dan biota laut lainnya. Limbah nuklir akan memasuki rantai makanan dan akhirnya terakumulasi dalam tubuh manusia yang mengonsumsinya.

Ia menunjukkan bahwa korban limbah nuklir dari bom atom Sekutu di Hiroshima dan Nagasaki serta limbah nuklir dari Reaktor Nuklir Chernobyl mengalami dampak serius, termasuk ribuan korban jiwa dan berbagai penyakit, terutama kanker dan mutasi genetik, yang bersifat jangka panjang.

Rokhmin Dahuri menyadari bahwa waktu paruh radioaktif limbah nuklir sangat lama, dan limbah ini akan terbawa oleh arus dan gelombang laut ke seluruh lautan di dunia. Oleh karena itu, tidak hanya kehidupan di sekitar lokasi pembuangan yang terancam, tetapi juga bangsa-bangsa lain di dunia. Mayoritas negara-negara di sekitar Samudera Pasifik sudah menolak rencana tersebut.

Denny D Indrajaya, Sekretaris Jenderal MAI, menambahkan bahwa ada teknologi alternatif untuk pembuangan nuklir yang lebih aman secara lingkungan dan kesehatan manusia.

Dia mengemukakan bahwa limbah nuklir dapat ditempatkan dalam tangki yang kedap selama ribuan tahun dan dikubur di dasar laut.

Denny berpendapat bahwa Jepang harus mempertimbangkan kembali rencananya dan mencari solusi yang mengutamakan kepentingan lingkungan dan ekonomi.

M. Amma Bonapon, Sekretaris Jenderal GNTI, juga menyatakan bahwa pembuangan limbah nuklir tersebut akan merugikan sektor perikanan tangkap dan petani. GNTI berkomitmen untuk mengawal isu ini dan menentang rencana tersebut.

Dalam kesimpulannya, masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) dan Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) menolak rencana pembuangan limbah nuklir dari Jepang ke Samudera Pasifik karena khawatir akan dampak negatifnya terhadap ekosistem laut, kesehatan manusia, dan sektor perikanan.

(***)

Kami Hadir di Google News

ADVERTISEMENT

banner 120x600