“To frame is to select some aspects of a perceived reality and make them more salient…”
— Robert M. Entman (1993)
Oleh: Wilsya Azzahroh Rahadi
Mjnews.id – Isu tentang kemungkinan pecahnya Perang Dunia Ketiga (World War 3) kembali hangat diperbincangkan di berbagai platform digital dan portal berita online sejak pertengahan Juni 2025. Ketegangan antara Israel dan Iran menjadi titik tolak meningkatnya kekhawatiran global, yang kemudian segera memicu respons dari berbagai media internasional.
Namun yang menarik, bukan hanya bagaimana media arus utama membingkai konflik ini sebagai ancaman global, tetapi juga bagaimana Gen Z membingkai ulang isu tersebut di media sosial seperti TikTok. Mereka merespons dengan cara yang unik, melalui konten-konten candaan, meme, sarkasme, hingga komentar jenaka seperti “divisi logistik makanan” atau “setting spray tahan bom.”
Fenomena antara respons Gen Z dan World War 3 ini dapat dilihat melalui teori framing, khususnya model yang dikembangkan oleh Robert M. Entman, yang menggarisbawahi bahwa media (dan siapa pun yang menyampaikan pesan) tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memilih bagaimana informasi itu dikemas, disorot, dan dimaknai oleh publik.
Apa itu Framing Theory?
Teori Framing pertama kali dikembangkan oleh Erving Goffman dalam bukunya Frame Analysis: An Essay on the Organization of Experience (1974). Goffman menjelaskan bahwa manusia memahami peristiwa melalui “bingkai” (frame), yakni kerangka interpretasi sosial yang digunakan untuk memaknai realitas dan pengalaman. Dalam kajian komunikasi massa, teori ini kemudian dipopulerkan dan dikembangkan oleh Robert M. Entman.
Teori framing merupakan kerangka berpikir dalam ilmu komunikasi yang menjelaskan bagaimana media membentuk persepsi publik melalui “bingkai” tertentu. Dengan kata lain, media tidak hanya memberitahu apa yang harus kita pikirkan, tapi juga bagaimana kita seharusnya berpikir tentang isu tersebut.
Bingkai Media Arus Utama: Perang Sebagai Ancaman Global
Media arus utama seperti BBC dan CNN membingkai konflik ini sebagai krisis diplomatik berskala tinggi yang berpotensi memicu ketegangan internasional.
Judul-judul yang bermunculan seperti “World on the Brink of War” atau “Middle East Crisis Deepens” menyiratkan:
• Perang Dunia Ketiga adalah ancaman nyata bagi stabilitas global.
• Fokus utama tertuju pada aktor negara dan elite politik dunia.
• Audiens diposisikan sebagai objek pasif yang perlu diberi peringatan dan rasa waspada.
Dalam bingkai ini, perang adalah masalah geopolitik elite yang harus ditanggapi dengan serius oleh masyarakat dunia, termasuk melalui intervensi diplomatik atau langkah strategis antarnegara.












