Ada yang tidak benar-benar hilang ketika seseorang meninggalkan rumah untuk merantau. Ia tidak terlihat, tidak bias disentuh, tetapi hadir di sela-sela yang sibuk; suara ibu yang terdengar dari telepon, tawa ayah yang samar, atau sekadar pertanyaan sederhana, “Sudah makan belum nak?”
Oleh: Diva Nur’Agmalia
Mjnews.id – Bagi mahasiswa rantau, suara-suara itu menjadi semacam jangkar kecil yang menjaga mereka tetap berada di permukaan ketika hidup di kota orang yang terasa terlalu cepat bergerak.
Rumah yang Berpindah Bentuk
Di ruang kos yang sempit, di antara buku kuliah dan lampu belajar yang menyala hingga larut malam, rumah tidak lagi hadir dalam bentuk bangunan. Ia berubah menjadi percakapan singkat, pesan yang masuk dari layar ponsel, atau panggilan video yang hanya berlangsung beberapa menit.
Badan Pusat Statistik mencatat, terdapat lebih dari 9 juta mahasiswa di Indonesia. Sebagian besar dari mereka menjalani hidup yang sama: berpindah dari rumah keluarga ke rumah sementara bernama perantauan. Namun angka tidak pernah benar-benar mampu menjelaskan apa yang terjadi di dalam diri mereka.
Rindu yang Tidak Selalu Bernama
Ada rindu yang tidak selalu bisa dijelaskan. Ia muncul di sela kesibukan, di tengah tumpukan tugas, atau saat malam yang terlalu sunyi. Dalam dunia akademik, kondisi ini dikenal sebagai homesickness, sebuah keadaan yang menjelaskan perasaan sedih, cemas, dan gelisah yang muncul akibat rasa rindu yang mendalam terhadap rumah, keluarga, atau lingkungan yang sudah akrab. Dalam penelitian psikologi dikaitkan dengan proses adaptasi terhadap lingkungan baru.
Namun bagi mahasiswa, ia sering kali tidak berbentuk istilah ilmiah. Ia lebih mirip perasaan kosong yang datang tiba-tiba, lalu pergi setelah suara dari rumah terdengar kembali.
Lima Menit yang Tidak Sederhana
Siti Aisyah (20) masih mengingat jelas bagaimana lima menit percakapan dengan ibunya bias mengubah sisa harinya.
“Kadang cuma sebentar saja. Tapi setelah itu saya merasa seperti ditarik kembali ke rumah,” ujarnya pelan.
Di kamar kosnya di Padang, telepon itu bukan rutinitas, melainkan jeda kecil dari hidup yang menuntutnya untuk terus berjalan.
Risky Pratana (21) menyebut hal yang serupa, meski dengan cara yang lebih sederhana.
“Tidak lama, tidak setiap hari. Tapi cukup untuk tahu bahwa di rumah semuanya baik-baik saja,” katanya.
Komunikasi yang Tidak Hanya Mengirim Kata
Dalam kajian ilmu komunikasi, hubungan keluarga jarak jauh bukan sekadar pertukaran informasi. Ia adalah bentuk kehadiran yang berbeda: tidak fisik, tetapi emosional.
Komunikasi menjadi ruang tempat mahasiswa rantau menaruh rasa lelah, ragu, dan rindu mereka tanpa harus menjelaskan secara utuh.
Dosen Ilmu Komunikasi, Andri Wahyudi, M.I.Kom, menyebut bahwa percakapan sederhana dalam keluarga memiliki fungsi psikologis yang kuat.
“Komunikasi keluarga adalah proses pertukaran pesan yang vital bagi anak rantau untuk menjaga kedekatan emosional, meredakan rasa rindu/kesepian, dan memenuhi dukungan psikologis saat terpisah jarak jauh dari orang tua dan rumah. Ia bukan hanya tentang apa yang dibicarakan, tetapi tentang ruang aman dan rasa diterima,” ujarnya.









