Bantuan Dharmasraya difokuskan pada tiga lokasi prioritas, Nagari Sumpur, Batipuh Selatan, Tanah Datar. Jalan terputus, sungai meluap, dan puluhan rumah rusak berat.
Lokasi kedua, Tabiang Banda Gadang, Nanggalo, Padang. Wilayah padat penduduk yang terdampak banjir cepat disertai longsor kecil.
Dan wilayah ketiga, Palembayan, Agam. Salah satu wilayah yang mengalami kerusakan infrastruktur terparah.
Meski sama-sama terdampak, setiap lokasi punya penderitaan berbeda. Di Sumpur, banyak keluarga kehilangan tempat tinggal. Di Padang, masalah muncul pada ketersediaan air bersih. Di Agam, akses logistik menjadi isu kritis.
Itulah mengapa koordinasi antara Dharmasraya dan Pemprov Sumbar menjadi penting. Tak semua daerah membutuhkan hal yang sama. Ada yang butuh alat berat, ada yang perlu pangan cepat, ada yang membutuhkan tenaga medis.

Menurut Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimy, Bupati Annisa telah menjalin komunikasi dengannya jauh sebelum serah terima laporan donasi dilakukan. Bahkan, beberapa komunikasi dilakukan saat malam hari.
“Beliau sudah bergerak dari awal,” kata Vasko.
Pernyataan itu menunjukkan fakta yang tidak banyak diketahui masyarakat. Koordinasi bencana bukanlah urusan yang bisa ditunda satu jam pun.
Sumber di Pemprov Sumbar memastikan bahwa komunikasi awal Annisa bukan sekadar melapor, tetapi memastikan bahwa bantuan Dharmasraya tidak salah sasaran.
Logistik dikirimkan sesuai prioritas provinsi. Tenaga medis ditempatkan di titik yang paling membutuhkan.
Jika ada hal yang jarang muncul di pemberitaan, maka inilah salah satunya. Bahwa pemimpin daerah yang bergerak cepat bisa mempercepat pemulihan bencana dalam hitungan jam, bukan hari.












