pemkab muba
BaznasBeritaKabupaten Dharmasraya

Saat Duka Menyelubungi Sumbar, Baznas Dharmasraya Datang Membawa Harapan

1027
×

Saat Duka Menyelubungi Sumbar, Baznas Dharmasraya Datang Membawa Harapan

Sebarkan artikel ini
Tim Baznas Dharmasraya serahkan bantuan untuk korban bencana alam Sumatera Barat
Tim Baznas Kabupaten Dharmasraya serahkan bantuan untuk korban bencana alam Sumatera Barat. (f/ist)

Rombongan Baznas Dharmasraya berangkat bersama Pemerintah Daerah, menyusuri jalur yang masih menyimpan sisa-sisa bencana. Di beberapa titik, tanah longsor masih tampak seperti sobekan luka di tubuh bumi. Air bah yang sudah surut meninggalkan bau lumpur yang menyengat, bercampur dengan kesedihan yang sulit digambarkan.

Saat mereka tiba di salah satu lokasi, beberapa anak berlarian mendekat. Bukan untuk berebut bantuan mereka hanya ingin memastikan bahwa ada orang yang peduli.

ADVERTISEMENT

“Abang dari mana?” tanya seorang bocah, kakinya masih belepotan lumpur.

“Dari Dharmasraya,” jawab Ridwan Syarif dengan senyum hangat.

Salah satu lokasi terdampak bencana hidrometeorologi di Sumatera Barat
Salah satu lokasi terdampak bencana hidrometeorologi di Sumatera Barat. (f/ist)

“Jauh ya. Terima kasih sudah datang,” katanya polos.

Kalimat itu menjadi energi tersendiri bagi tim yang datang. Karena dalam bencana, kehadiran sering kali lebih berarti dari sekadar barang bantuan. Kehadiran mengirim pesan, kami melihat derita, kami peduli, dan kami datang karena masyarakat yang kenak musibah bagian dari kami.

Baznas memiliki pendekatan unik mereka tak hanya menyerahkan bantuan melalui simbolis dan foto seremonial, tetapi memastikan penyaluran dilakukan melalui Baznas daerah terdampak agar tepat sasaran.

Bantuan uang tunai diprioritaskan untuk kebutuhan mendesak, pembelian bahan makanan, obat-obatan, pakaian layak, dan kebutuhan darurat lain yang tidak bisa ditunda.

Sementara 1 ton beras menjadi penyelamat bagi banyak keluarga. Di tiap kamp pengungsian, beras adalah simbol harapan sederhana bahwa esok masih ada sesuatu yang bisa dimakan.

Di salah satu tenda pengungsian, seorang lelaki paruh baya menatap karung beras itu lama, seakan memikirkan panjangnya perjalanan yang dilalui hanya untuk sampai kepadanya.

“Ini lebih dari sekadar beras,” katanya pelan. “Ini carito saling manyokong urang awak.”

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT