BeritaKabupaten Dharmasraya

Perjuangan Sunyi Seorang Pemimpin Perempuan Minang di Koridor Bappenas untuk Masa Depan Dharmasraya

13
Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramahani audiensi dengan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy
Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramahani audiensi dengan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy. (f/ist)

Mjnews.id – Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah benar-benar tidur, seorang perempuan dari ranah Minang melangkah mantap menuju ruang audiensi Kementerian PPN/Bappenas RI. Wajahnya tenang, namun di balik tatapannya tersimpan tekad besar untuk kampung halaman yang dipimpinnya.

Ia adalah Annisa Suci Ramadhani, bupati perempuan pertama yang memimpin Kabupaten Dharmasraya. Di pundaknya bukan hanya amanah pemerintahan yang dibawa, tetapi juga harapan ribuan masyarakat di daerah paling timur Sumatera Barat itu yang selama ini mendambakan kemajuan infrastruktur dan kebangkitan ekonomi.

ADVERTISEMENT

Didampingi Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, Annisa sengaja datang jauh ke ibu kota untuk memperjuangkan masa depan Dharmasraya.

Pada Selasa (19/05/2026), ia melakukan audiensi langsung dengan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy guna mengusulkan Dharmasraya masuk dalam Program Strategis Nasional (PSN), sekaligus mengajukan pembangunan feeder toll yang akan menghubungkan Dharmasraya dengan jaringan Jalan Tol Trans Sumatera.

Bagi Annisa, pembangunan bukan sekadar proyek di atas kertas. Ia memahami betul bagaimana masyarakat di daerahnya bertahun-tahun bergantung pada jalan lintas yang padat, dilalui truk-truk sawit dan kendaraan logistik dari berbagai provinsi. Ia tahu bagaimana panjangnya perjalanan distribusi hasil perkebunan, mahalnya ongkos angkut, hingga sulitnya membuka akses ekonomi baru bagi nagari-nagari di pelosok.

Karena itulah, ia datang membawa mimpi besar. Di hadapan jajaran Bappenas, Annisa memaparkan rencana pembangunan Kawasan Industri Terintegrasi Sawit dan Agro Dharmasraya seluas 500 hektare di Nagari Sungai Duo. Kawasan itu dirancang menjadi pusat hilirisasi CPO, industri oleokimia hingga pakan ternak sebuah langkah yang ingin mengubah Dharmasraya dari sekadar daerah penghasil bahan mentah menjadi pusat industri bernilai tambah.

Tak tanggung-tanggung, kawasan industri tersebut diproyeksikan mampu menarik investasi hingga Rp3,2 triliun dan membuka sekitar 2.500 lapangan kerja baru.

Namun perjuangan Annisa tak berhenti di situ. Ia juga membawa gagasan pembangunan feeder toll sepanjang sekitar 139 kilometer yang menghubungkan Koto Baru, Dharmasraya menuju akses Tol Rengat Pekanbaru di Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau.

Dengan penuh keyakinan, Annisa menggambarkan posisi strategis Dharmasraya sebagai gerbang penghubung Sumatera Barat, Riau dan Jambi.

“Dharmasraya merupakan pintu gerbang logistik Sumbar bagian timur. Bahkan bisa disebut sebagai Selat Hormus-nya Sumbar karena menjadi jalur utama arus distribusi barang dan komoditas lintas provinsi,” ujarnya.

Exit mobile version