pemkab muba
OlahragaPadang Panjang

Awali Pacu Kuda Alek Nagari Pabasko, Ninik Mamak Naik Bendi ke Bancalaweh

266
×

Awali Pacu Kuda Alek Nagari Pabasko, Ninik Mamak Naik Bendi ke Bancalaweh

Sebarkan artikel ini
Ninik Mamak Pabasko naik bendi ke Bancalaweh
Ninik Mamak Pabasko naik bendi ke Bancalaweh, Padang Panjang. (f/kominfo)

PADANG PANJANG, Mjnews.id – Mengawali Pacu Kuda Alek Nagari Padang Panjang, Batipuah, X Koto (Pabasko), Minggu (26/6/2022), diawali dengan prosesi arak-arakan ninik mamak dengan menumpang bendi. Wali Kota, H. Fadly Amran, BBA Datuak Paduko Malano, Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, Dr. Fauzi Bahar, M.Si Datuak Nan Sati, serta ninik mamak perwakilan dari 23 nagari di Pabasko berada di atas bendi ini menuju lokasi acara.
Mengunakan 14 buah bendi dan bugih, arak-arakan ini dimulai dari Pendopo Rumah Dinas Wali Kota. Melewati rute SMKN 1, Gedung M. Syafei, Pasar Pusat, Tanah Hitam dan finish di Gelanggang Pacuan Kuda disambut dengan Tari Gelombang.
Ketua Panitia Pelaksana (Panpel), Delius Putra, S.Sos mengatakan, kehadiran event Pacu Kuda Alek Nagari Padang Panjang, Batipuah dan X Koto (Pabasko) tahun 2022 ini merupakan sebagai pengobat rindu masyarakat yang telah lama menanti-nantikan kembalinya event ini di Kota Padang Panjang.
“Acara ini merupakan hiburan dan pengobat rindu bagi masyarakat khususnya di Padang Panjang, Batipuh dan X Koto setelah terakhir dihelat pada tahun 2019 lalu,” katanya saat memberikan sambutan di dalam acara pembukaan yang digelar di Gelanggang Pacuan Kuda Bancalaweh.
Delius juga mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kota Padang Panjang yang telah men-support kegiatan ini sehingga bisa berjalan dan terselenggara dengan baik.
Ia menyebutkan ada sebanyak 52 ekor kuda yang berasal dari daerah Sumatera Barat dan luar Sumatera Barat yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. 
“Mari sama-sama kita nikmati alek anak nagari dan beramai-ramai ke gelanggang, karena biaya masuk gratis. Karena ini adalah hiburan untuk kita semua setelah dua tahun vakum, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang ada,” tutupnya
Sebelumnya, Wako Fadly menyampaikan, “alek pacu kudo” ini merupakan tradisi yang mendapatkan antusiasme luar biasa dari masyarakat.
“Tahun 2019 lalu, hampir 30 ribu lebih masyarakat yang hadir menyaksikan event pacu kuda ini. Saya rasa saat ini akan lebih dari itu,” ujarnya.
Diungkapkannya, pada penyelenggaraan kali ini, panitia telah menyiapkan sarana berjualan bagi UMKM secara gratis. “Mudah-mudahan bisa kita nikmati bersama dan jadi sejarah yang luar biasa sebagai sarana kekerabatan dan silaturahim antara kita semua,” tambahnya.
Fauzi Bahar dalam kesempatan ini menyampaikan, Kota Padang Panjang akan menjadi pilot project terkait restorative justice. Ini sesuai dengan kerja sama Polda Sumbar bersama LKAAM Sumbar. 
“Mohon dukungan ninik mamak. Selasa lusa, kita akan lakukan penandatanganan hal tersebut,” sebutnya.
Dalam kesempatan ini, Fauzi juga mengundang ninik mamak Pabasko untuk dapat hadir dalam acara melewakan gala Kapolda Sumbar yang akan berlangsung pada 1 Juli mendatang di Istano Basa Pagaruyung.
Sementara itu, perwakilan Niniak Mamak dari Kanagarian Gunuang, Datuak Pandak mengatakan, Pacu Kuda Alek Anak Nagari Padang Panjang, Batipuah dan X Koto (Pabasko) menjadi momen yang ditunggu masyarakat. 
“Tepat hari ini, Minggu (26/6/2022), Pabasko kembali menggelarnya dan tali silaturahmi kembali terjalin,” ucapnya.
Pihaknya berterima kasih kepada seluruh panitia yang telah menyelenggarakan alek besar ini. Kerinduan masyarakat dapat terobati. 
Dikatakan, “pacu kudo” merupakan kegiatan tradisional sudah ada sejak zaman dahulu dan benar-benar acara yang bisa meningkatkan ekonomi masyarakat terlebih setelah pandemic Covid-19. 
“Berkumpulnya masyarakat ke sini, menjadi sebuah masukan yang besar bagi pedagang kita. Ekonomi para pedagang kita bisa naik dengan adanya acara besar seperti ini,” sebutnya. 
Tidak lupa juga Angku Kupiah menyebutkan, sedikit sejarah pacuan kudo yaitu bertemunya Zainudin dan Hayati yang ditulis Buya Hamka dalam novelnya Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Kisah novel yang terbit pertama kali tahun 1939 ini berlatar Kota Padang Panjang dan Batipuah. 
Ia berharap ke depan kegiatan ini terus berlanjut dan ekonomi masyarakat semakin membaik.
(and/arb)

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *