Infrastruktur yang lebih cerdas kini semakin mendesak dan tinggi permintaannya. Sering kali terjadi di mana perusahaan ingin memperoleh manfaat dari pembelajaran mesin tetapi sistem yang sudah ada sebelumnya tidak dapat mendukung alur data AI dalam jumlah masif. Seiring dengan semakin cepatnya adopsi AI, tim TI memerlukan infrastruktur yang efisien, andal, dan berkinerja tinggi untuk memastikan penerapan yang efektif.
“Laporan ini memberikan pengetahuan yang berguna bagi organisasi di Indonesia yang akan atau sudah menjalankan proyek AI. Di era AI, kebutuhan energi dan data akan tumbuh secara eksponensial dan berinvestasi pada infrastruktur data yang mendukung AI sangatlah penting agar proyek Anda mendapat peluang keberhasilan,” kata Catharina Hadiningtyas, Country Manager, Indonesia, Pure Storage.
AI Akan Ciptakan Perubahan Besar di Cloud Computing
Di 2024, Pure Storage memprediksi akan ada perubahan besar di area cloud computing dengan munculnya generasi penyedia cloud yang terspesialisasi pada layanan khusus AI seperti Cloud Unit Pemrosesan Grafis akan mendisrupsi status quo yang sudah ada sebelumnya yaitu IaaS hyperscalers.
Hyperscalers jenis baru ini akan dengan cepat tumbuh karena banyak penyedia cloud meminta jalur kemitraan mereka untuk membuat manufaktur chip Unit Pemrosesan Grafis demi menjawab kebutuhan pelanggan yang semakin banyak.
Kemudian aktivitas M&A akan terjadi di area ini karena Hyperscalers yang ada bergerak untuk mengakuisisi kemampuan Cloud AI.
Cloud Berdaulat akan Semakin Berkembang
Menurut Pure Storage, kedaulatan cloud akan semakin meningkat berdasarkan peraturan yang lebih mengikat berkaitan dengan penggunaan dan lokasi data, terutama dalam industri seperti industri keuangan. Selain itu, sistem AI seperti GenAI, makin meningkatkan pembahasan terkait kedaulatan selama proses pelatihan.
“2024 akan kita lihat bangkitnya kedaulatan cloud, karena banyak organisasi merespon peraturan pemerintah yang meminta mereka untuk menyimpan data di dalam yurisdiksi supaya memiliki kontrol yang lebih banyak,” kata Catharina.
Negara-negara yang akan memimpin antara lain Australia, New Zealand, Jepang dan Indonesia.












