| Ilustrasi Gaya Hidup Minimalis. (idntimes) |
Oleh: Alfitri Fortuna Fiandra
Mjnews.id – Apa sih itu gaya hidup minimalis? Hidup simple? Hidup tanpa hedonisme?
Minimalisme adalah gaya hidup yang sederhana, tidak berlebihan, dan mementingkan kualitas barang dibanding kuantitas barang tersebut. Gaya hidup yang minimalis juga mengurangi rasa kepemilikan barang sehingga memberikan kita lebih tenang dan bahagia. Slogan yang terkenal dari gaya hidup ini adalah “less is more”.
Marie Kondo seorang pakar “beres-beres” dari Jepang ialah salah satu penggiat dari minimalisme dengan metode KonMari nya yang diikuti oleh banyak orang. Metode KonMari merupakan metode merapikan rumah yang bertujuan untuk membantu membersihkan rumah dari barang-barang yang tidak dibutuhkan lagi dan hanya menyimpan barang-barang yang menimbulkan kebahagiaan bagi penggunanya.
Kunci dalam metode KonMari adalah merapikan semuanya dalam satu waktu sekaligus. Kebiasaan merapikan rumah yang dicicil diyakininya dapat mengganggu komitmen, sehingga menunda selesainya proses “beres-beres” itu sendiri.
Dalam berberes-beres metode Kon Mari menyarankan kita untuk mengucapkan terima kasih atas jasa dan kenangan yang diberikan oleh barang yang akan kita singkirkan sehingga, melepaskan barang akan terasa lebih mudah.
Menjalani kehidupan yang minimalis memerlukan pengorbanan karena kita harus merelakan sebagian barang yang tidak terlalu diperlukan. Misalnya kita harus bisa “menyingkirkan” koleksi tas di rak, menyisakan satu atau dua yang paling sering dipakai serta mungkin tumpukan pakaian di lemari, koleksi sepatu, dan sebagainya. Gaya hidup minimalis mengajarkan kita untuk lebih ikhlas dan selalu bersyukur dalam hidup.
Tidak hanya belajar merelakan, dalam gaya hidup minimalis kita juga belajar untuk memebeli segala sesuatu sesuai dengan kebutuhan. Kita harus menghilangkan hasrat untuk membeli barang-barang yang kemudian hanya akan menjadi pajangan di rumah atau yang hanya sesekali kita gunakan.
Dalam gaya hidup minimalis kita harus mampu menyusun daftar yang harus dibeli dari yang paling penting hingga yang tidak penting.
Dengan membatasi barang yang dimiliki, seseorang akan dapat lebih percaya diri karena bisa lebih fokus pada hal-hal yang dapat mengembangkan dirinya. Gaya hidup ini didasari dari pemikiran bahwa hampir setiap orang memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu mereka butuhkan. Gaya hidup minimalis juga berfokus pada memberikan dampak sebesar-besarnya kepada orang lain dan lingkungan sekitar.
Bagaimana cara menerapkan gaya hidup minimalis?
Berikut adalah 5 langkah mudah untuk memulai gaya hidup minimalismu:
1. Decluttering barang
Barang-barang yang kita punya harus dipisahkan mana yang masih kita gunakan dan mana yang tidak. Kita harus segera “menyingkirkan barang yang tidak terpakai lagi. Menyingkirkan bukan berarti kita harus membuang barang tersebut. Jika barang yang kita punya masih bagus dan layak, kita dapat menyumbangkannya ke orang yang membutuhkan.
2. Merawat semua barang yang dimiliki
Barang-barang yang sudah kita miliki harus selalu dirawat dengan baik agar tidak cepat rusak. Barang bila tidak dirawat akan mempercepat umur barang tersebut. Hal seperti ini jika dibiarkan lama-lama akan mejadi pemborosan yang tidak diduga dan seharusnya tidak kita lakukan.
3. Pengeluaran sedikit namun kualitas terbaik
Kita harus selektif dalam membeli barang. Barang yang kita beli harus berkualitas tinggi dan akan tetap berguna dalam jangka panjang. Kita tidak boleh tergiur dengan barang-barang yang diskon namun kita sebenarnya tidak terlalu memerlukan barang tersebut.
Contoh, belilah sepatu berkualitas dengan masa pakai yang lama, memang mungkin harga diawal lebih mahal akan dengan ketahanan barang yang bagus kita dapat menghemat biaya dimasa depan.
4. Time Management
Hidup minimalis bukanlah hanya efektivitas penggunaan barang namun juga waktu. Waktu yang kita gunakan haruslah efisien dengn memprioritaskan sesuatu yang urgensinya lebih tinggi.
5. Tidak berlebihan dalam membeli bahan makanan
Kita perlu mengatur pola dan membuat daftar belanja. Daftar belaja diperlukan agar kita fokus untuk membeli bahan-bahan yang perlu saja. Jangan sampai kita terlalu banyak membeli bahan makanan, hingga tidak terpakai dan akhirnya membusuk. Tentu saja bahan yang sudah busuk tidak bisa diolah dan yang tersisa hanyalah keborosan akibat kita yang ceroboh dan tidak selektif dalam membeli barang.
Bagaimana? Menerapkan gaya hidup yang minimalis bukan hal yang sulit bukan?
Ayok, kalau tidak sekarang kapan lagi? Dimulai dari hal-hal kecil, lama-lama kita pun akan terbiasa untuk hidup minimalis.
(***)
Penulis, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas Padang





