Walaupun begitu, upaya Pemko tidak bisa dipandang sebelah mata. TPS Air Dingin yang luasnya hampir 10 hektare (idealnya lebih dari 7 hektare) menjadi tumpuan akhir.
Namun, untuk benar-benar beranjak dari sekadar memindahkan sampah menjadi mengelola sampah, Padang masih butuh industri pilah sampah.
Peran LPS dan Masa Depan 400 Liter
Dalam manajemen operasionalnya, DLH Kota Padang tidak sendirian. Mereka berbagi peran dengan Lembaga Pengelolaan Sampah (LPS) di tingkat kelurahan.
Menurut Luxani, sampah di atas 400 liter dikelola langsung oleh DLH, sementara 400 liter ke bawah-termasuk sampah rumah tangga-dikelola oleh LPS. Bahkan, persentase penanganan sampah rumah tangga oleh LPS sudah menyentuh angka 80 persen.
“LPS di kelurahan, termasuk yang ada di pasar-pasar warga, membantu memastikan warga taat aturan dan membayar uang sampah. Ini krusial agar sampah tak tercecer, ” tambah Luxani.
Menuju Padang yang Lebih Bersih
Lalu kapan produksi pengelolaan sampah di Kota Padang menuju industri?
Pertanyaan itu masih menggantung, namun upaya keras untuk terus berbenah sudah terlihat. Adipura 2026 adalah bukti kerja keras.
Namun, mimpi sesungguhnya Kota Padang tidak hanya bersih tapi juga industri pengolahan sampahnya mandiri, ini adalah pekerjaan rumah (PR) selanjutnya.
Saat ini, di bawah arahan Kepala DLH Padang, Fadelan Fitra Masta, S. T, M. T., tim terus memutar otak agar 750 ton sampah itu tidak hanya berakhir di tanah, tapi diolah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi.
(Obral)












