BeritaJawa TengahTNI

TMMD ke-128: Satu Jalan dari Desa Krangean, Seribu Harapan Mulai Diperjuangkan

0
×

TMMD ke-128: Satu Jalan dari Desa Krangean, Seribu Harapan Mulai Diperjuangkan

Sebarkan artikel ini
Pengecoran jembatan Desa Krangean dalam TMMD ke-128
Pengecoran jembatan Desa Krangean dalam TMMD ke-128. (f/pendim)

Mjnews.id – Deru mesin molen terdengar bersahutan dengan suara cangkul yang menghantam batu di Desa Krangean, Kecamatan Kertanegara, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah, Sabtu (16/5/2026).

Di tengah mendung yang menggantung di langit perbukitan, puluhan prajurit TNI bersama warga masih sibuk merampungkan pembangunan jalan desa yang selama ini menjadi keluhan utama masyarakat.

ADVERTISEMENT

Tak jauh dari lokasi pekerjaan, beberapa anak tampak berlari kecil melintasi jalan yang kini mulai tertutup aspal hitam. Pemandangan itu terasa berbeda dibanding beberapa bulan lalu, ketika jalan yang sama masih dipenuhi lumpur dan sulit dilalui kendaraan.

Bagi masyarakat Desa Krangean, perubahan itu bukan sekadar pembangunan infrastruktur. Ia adalah awal dari lahirnya harapan baru.

Selama bertahun-tahun, warga hidup dalam keterbatasan akses. Saat hujan turun, jalan desa berubah menjadi licin dan berlumpur. Kendaraan sering kesulitan masuk, bahkan warga harus saling membantu ketika ada kendaraan yang terjebak di tengah jalan.

Anak-anak sekolah menjadi salah satu pihak yang paling merasakan sulitnya akses tersebut. Mereka harus berjalan perlahan melewati jalan becek setiap pagi demi bisa sampai ke sekolah. Tak jarang sepatu dan seragam mereka dipenuhi lumpur sebelum pelajaran dimulai.

“Kalau musim hujan dulu susah sekali. Jalan licin, kendaraan sering nggak bisa lewat. Kami kalau mau jual gula merah juga harus ekstra perjuangan,” tutur Misdi (54), warga Desa Krangean RT 11/RW 03.

Desa Krangean memang dikenal sebagai salah satu penghasil gula merah tradisional di Kabupaten Purbalingga. Namun kondisi jalan yang rusak membuat distribusi hasil produksi warga sering terhambat.

Akibatnya biaya transportasi meningkat dan harga jual hasil produksi masyarakat menjadi kurang maksimal.

Tak hanya berdampak pada ekonomi, keterbatasan akses juga memengaruhi pelayanan masyarakat. Dalam kondisi darurat, ambulans sering kesulitan mencapai permukiman warga. Bahkan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis sempat terkendala karena kendaraan pengantar tidak mampu menjangkau beberapa titik sasaran.

Relawan harus berjalan kaki menembus jalan berlumpur. Sebagian penerima manfaat bahkan menggunakan jasa ojek dengan biaya yang lebih mahal dibanding nilai bantuan yang diterima.

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT