Bagi Amsal, nilai sebuah karya kreatif tidak pernah diukur dari mahalnya alat produksi atau besarnya modal materi. Nilai terbesar justru terletak pada ide.
“Ide itu bukan tidak bernilai, tapi tak ternilai. Kreativitas tanpa batas itulah yang membuat sebuah karya menjadi bernilai,” ucap pemuda Kabupaten Karo yang viral pada beberapa bulan lalu.
Ia pun mengajak generasi muda untuk tidak takut menawarkan gagasan dan terus mengeksplorasi dunia ekonomi kreatif selama dilakukan dengan niat baik dan sesuai aturan.
“Intinya, kreativitas kita itu bernilai. Jangan apatis untuk mengeksplorasi dunia ekonomi kreatif ini,”tutupnya.
Sementara Ketua HIPMI Kota Payakumbuh, Chairul Mufti, menilai perkembangan teknologi informasi telah membuka peluang besar bagi lahirnya pengusaha-pengusaha muda di sektor ekonomi kreatif.
Menurutnya, banyak anak muda kini belajar secara mandiri melalui internet, kemudian mengembangkan kemampuan menjadi karya yang bernilai ekonomi.
“Kita di HIPMI melihat ini sebagai pekerjaan rumah penting ke depan. Bagaimana kreativitas anak-anak muda bisa dikonversi menjadi pendapatan, hobinya tersalurkan dan akhirnya menjadi profesi,” ujarnya.
Diskusi malam itu bukan hanya tentang kisah seorang videografer yang pernah terjerat persoalan hukum. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi pengingat bahwa ide, kreativitas dan keberanian berkarya adalah kekuatan besar yang mampu mengubah luka menjadi harapan, sekaligus membuka jalan baru bagi generasi muda untuk terus tumbuh dan berkarya.
(Yud)












