Yashinta pun menawarkan metode baru untuk program literasi keuangan OJK. Selama ini program literasi keuangan dilakukan dengan metode sosialisasi yang mengumpulkan banyak orang dalam satu waktu sehingga terkadang menimbulkan pemborosan anggaran dan hasilnya kurang efektif.
Yashinta menawarkan metode “gethok tular” yang dalam bahasa Indonesia berarti mulut ke mulut untuk tingkatkan literasi keuangan. Cara “gethok tular” dilakukan dengan cara mengumpulkan cukup ketua RT dan RW saja yang diberi pelatihan terkait literasi keuangan, khususnya cara membedakan pinjol legal dan ilegal. Kemudian para tokoh tersebut diwajibkan menyampaikan literasi keuangan kepada warga sekitar pada saat melakukan kerja bakti bersama, arisan, dan kegiatan poskamling.
“Saya menawarkan metode “gethok tular” agar peningkatan literasi keuangan bisa lebih efektif dan efisien. Jadi, teman-teman OJK cukup lakukan sosialisasi literasi keuangan kepada Ketua RT dan RW. Kemudian mereka diberi tugas untuk menyampaikan literasi keuangan pada saat acara bersama seperti kerja bakti, arisan, dan kegiatan poskamling. Nah, jadi teman-teman OJK tinggal memantau para Ketua RT dan RW ini. Saya yakin “gethok tular” akan efektif tingkatkan literasi keuangan, termasuk mencegah pinjol ilegal karena merupakan bagian dari masyarakat kita,” usul Senator termuda DIY ini.
Nuryadi pun setuju usulan tersebut karena budaya “gethok tular” sudah terbukti efektif dalam melakukan sosialisasi sebuah informasi baru.
“Pengalaman penanganan COVID-19 dulu membuktikan “gethok tular” efektif di masyarakat sehingga saya setuju jika itu dipakai untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat,” tegas Ketua DPRD DIY dua periode ini.
“Gethok tular” memang merupakan budaya tutur masyarakat nusantara sejak lama. Sayangnya, metode tersebut masih jarang digunakan oleh pemerintah dalam menjalankan program yang berbasis sosialisasi. Padahal, budaya ini cukup efektif dalam memberitahukan sebuah informasi kepada masyarakat luas.
Yashinta Sekarwangi Mega selaku anak muda yang berkomitmen pada kebudayaan mengingatkan kembali bahwa metode “gethok tular” bisa menjadi metode baru tingkatkan literasi keuangan masyarakat DIY.
(*/dpd)












