BeritaNasional

BGN: Diversifikasi Menu Program MBG, Solusi Inflasi Bahan Pangan

313
×

BGN: Diversifikasi Menu Program MBG, Solusi Inflasi Bahan Pangan

Sebarkan artikel ini
Rakor Pengendalian Inflasi Daerah yang dirangkaikan dengan pembahasan Peran Pemda dalam Penyelenggaraan Program MBG serta Evaluasi Dukungan Pemda pada Program Tiga Juta Rumah
Rakor Pengendalian Inflasi Daerah yang dirangkaikan dengan pembahasan Peran Pemda dalam Penyelenggaraan Program MBG serta Evaluasi Dukungan Pemda pada Program Tiga Juta Rumah. (f/humas)

Nanik juga mengungkapkan bahwa pasar mulai menunjukkan tanda-tanda gejolak pasokan, termasuk mulai sulit ditemukannya buah di sejumlah pasar induk. Kondisi ini memperkuat urgensi diversifikasi agar SPPG tidak bergantung pada satu atau dua jenis komoditas tertentu.

“Buncis, kacang panjang, wortel, dan pakcoy sudah mulai naik di pasaran. Diversifikasi ini penting untuk menyeimbangkan ulang permintaan,” jelasnya.

ADVERTISEMENT

Nanik menegaskan bahwa kebijakan penggunaan bahan baku oleh SPPG akan terus disesuaikan dengan kondisi pasar secara dinamis.

“Mana harga yang jatuh akan kita instruksikan untuk digunakan. Mana yang naik akan kita kurangi. Diversifikasi adalah kunci agar MBG tetap berjalan tanpa menekan pasar,” tutup Nanik.

Inflasi Oktober Tertinggi di 2025

Sementara Wamendagri Bima Arya Sugiarto menyebut angka inflasi Indonesia year-on-year (YoY) pada Oktober 2025 tercatat sebesar 2,86 persen. Di tingkat global, Indonesia berada di peringkat 88 dari 186 negara, sementara di kawasan ASEAN menempati peringkat ke-8. Ia meminta pemerintah daerah (Pemda) dengan inflasi tinggi untuk segera memperkuat langkah pengendalian.

“Inflasi di bulan Oktober 2025 ini, berdasarkan data memang tertinggi sepanjang tahun 2025. Apabila dibandingkan dengan bulan September, angkanya naik 0,28 persen,” katanya.

Dia menjelaskan, angka inflasi tersebut tidak dapat dilepaskan dari dinamika global, selain dipengaruhi faktor ekonomi domestik di daerah. Ia mencontohkan situasi di Amerika Serikat (AS) yang baru-baru ini mengalami shutdown pemerintahan federal selama sekitar 43 hari. Shutdown terpanjang dalam sejarah tersebut menghambat pembaruan berbagai data penting dan turut memengaruhi aktivitas ekspor-impor.

Selain itu, Bima menyoroti kecenderungan deflasi di Cina yang dipicu krisis properti dan kelebihan kapasitas produksi sektor industri. Kenaikan harga emas juga turut berkontribusi terhadap dinamika inflasi global. “Seperti selalu kita kaji, selalu Pak Menteri [Dalam Negeri] juga sampaikan, adanya kenaikan harga emas yang juga memberikan andil bagi kenaikan inflasi,” imbuhnya.

Pada sisi domestik, sambungnya, komoditas penyumbang inflasi month-to-month antara lain emas perhiasan, cabai merah, telur ayam ras, daging ayam ras, dan wortel. Melihat kenaikan sejumlah komoditas tersebut, Bima menegaskan perlunya kewaspadaan daerah dalam merespons tekanan harga, terutama yang dipengaruhi faktor cuaca serta kondisi menjelang Natal dan Tahun Baru.

Bima merinci lima provinsi dengan inflasi tertinggi yaitu Sumatera Utara (4,97 persen), Riau (4,95 persen), Aceh (4,66 persen), Sumatera Barat (4,52 persen), Sulawesi Tengah (3,92 persen), dan Jambi (3,71 persen). Adapun provinsi dengan inflasi terendah adalah Papua (0,53 persen), Maluku Utara (1,18 persen), Lampung (1,20 persen), Papua Barat Daya (1,36 persen), Papua Barat (1,42 persen), dan Sulawesi Utara (1,48 persen).

Untuk tingkat kabupaten, inflasi tertinggi tercatat di Kerinci (6,70 persen), Tolitoli (6,69 persen), Pasaman Barat (6,67 persen), Deli Serdang (6,24 persen), dan Indragiri Hilir (6,14 persen). Sementara di tingkat kota, inflasi tertinggi terjadi di Padangsidimpuan (5,71 persen), Gunungsitoli (5,22 persen), Pematang Siantar (5,10 persen), Pekanbaru (5,01 persen), dan Dumai (4,94 persen).

(*/eki)

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT