Apa yang terjadi di Dharmasraya bukan lagi program pemerintah. Ia telah menjadi gerakan kemanusiaan yang muncul dari bawah gerakan yang tumbuh bukan dari instruksi, tetapi dari naluri manusia untuk menolong manusia.
Dalam waktu lima hari, apa yang terkumpul bukan hanya signifikan, tetapi mencengangkan untuk ukuran kabupaten.
Rp541.167.369 dalam bentuk uang tunai.
2.491 kilogram beras. 290 dus mi instan.
282 dus minyak goreng. Ratusan pakaian layak pakai, roti, gula, air mineral, popok, pembalut, dan kebutuhan dasar lain.
Ada sebuah catatan menarik. Jika dihitung secara kasar, setiap kilogram beras, setiap dus mi instan, setiap rupiah donasi mengandung cerita masing-masing. Di balik angka-angka itu terdapat deretan warga yang mungkin tak pernah saling kenal, tetapi saling percaya bahwa solidaritas itu menular.
Menurut catatan investigatif yang dihimpun dari beberapa sumber di posko donasi, lebih dari 70% donasi berasal dari masyarakat kecil-menengah, bukan dari perusahaan besar. Ini membuktikan bahwa gerakan gotong royong bukan slogan ia adalah akar yang masih kuat mengikat masyarakat Dharmasraya.
Ketika sebagian besar masyarakat menuju daratan yang lebih aman, 55 relawan Dharmasraya justru bergerak mendekati pusat bencana. Dari jumlah itu, 10 relawan kesehatan diberangkatkan, termasuk dokter, perawat, dan tenaga medis lapangan.
Di Tanah Datar, para relawan bekerja sejak pagi hingga larut malam memeriksa luka, mengobati infeksi, memberikan vitamin, dan memastikan anak-anak tersenyum lagi.
Seorang relawan yang baru kembali dari lokasi berkata, “Kami bukan datang untuk menjadi pahlawan. Kami datang untuk memastikan mereka tidak sendirian.”
Dharmasraya juga mengirim satu unit ambulans untuk stand-by di lokasi. Dua unit alat berat diberangkatkan dengan operator khusus. Alat itu bekerja membelah akses jalan yang tertutup lumpur, membuka jalur yang tertimbun material longsor.
Dalam kondisi seperti itu, alat berat bukan sekadar mesin. Ia adalah penentu apakah logistik bisa masuk atau tidak.
