Serah terima laporan itu bukan akhir cerita. Ia hanyalah penanda bahwa Dharmasraya menempuh jalannya sendiri dalam membantu Sumatera Barat pulih.
Di balik laporan resmi, ada ratusan kisah: Relawan yang tidur di terpal basah, anak-anak yang tersenyum menerima bantuan, ibu-ibu yang menangis lega ketika logistik tiba, dan masyarakat Dharmasraya yang tak pernah melihat wajah mereka yang dibantu, tetapi tetap memberikan yang terbaik yang mereka punya.
Inilah inti dari segala narasi panjang, bahwa di tengah bencana yang meretakkan tanah, manusia justru semakin menemukan alasan untuk merapatkan barisan.
Langit mungkin telah meretakkan rumah, memutus jalan, menghanyutkan harta, tetapi ia tidak mampu meretakkan rasa persaudaraan.
Dari Dharmasraya ke Tanah Datar, dari Padang ke Agam, dari posko donasi hingga dapur umum, dari tumpukan beras hingga uang receh dalam kotak donasi semuanya berkata hal yang sama;
Bahwa kita tidak sendirian.
Bahwa kemanusiaan masih punya tempat.
Bahwa ketika satu daerah terluka, daerah lain datang menjahit lukanya.
Dan selama itu masih ada, kita selalu punya alasan untuk percaya bahwa Sumatera Barat akan pulih, bahwa Dharmasraya akan terus hadir, dan bahwa kemanusiaan tak akan pernah kalah oleh bencana.
(sutan)
