Mjnews.id – Hujan telah turun sejak subuh di beberapa wilayah di Sumatera Barat pada akhir November itu. Bukan hujan lebat biasa. Ia datang seperti gunting besar yang mengoyak langit, memuntahkan air dalam jumlah besar, disertai angin yang merangsek tanpa ampun.
Di Sumpur, Tanah Datar, suara air bah yang turun dari perbukitan terdengar seperti suara retakan besar suara yang hanya didengar masyarakat ketika alam mulai kehilangan kesabarannya.
Di Tabiang Banda Gadang, Padang, warga harus bergegas membawa anak-anak mereka ke tempat lebih tinggi. Sementara di Palembayan, Agam, jalan-jalan terbelah, pohon-pohon tumbang, dan rumah-rumah yang selama puluhan tahun berdiri tegar akhirnya menyerah pada terjangan air.
Dalam satu malam, hidrometeorologi bukan lagi istilah teknis. Ia berubah menjadi wajah-wajah pucat, pakaian basah, anak-anak menangis, jalan terputus, dan hilangnya harapan yang sudah lama dibangun.
Jauh dari pusat bencana, di Dharmasraya, berita tentang banjir bandang dan longsor tiba seperti tamu tak diundang. Bupati Annisa Suci Ramadhani menerima laporan sejak pagi akses terputus, kebutuhan logistik menipis, dan ribuan warga mengungsi di beberapa titik.
“Saya tak ingin Dharmasraya bergerak terlambat. Kalau kita bisa bergerak cepat, mungkin nyawa bisa tertolong.”
Begitu salah satu sumber internal pemerintah daerah menggambarkan percakapan awal Annisa dengan timnya.
Gerakan pun dimulai. Hari pertama, Pemkab membuka posko. Hari kedua, donasi masyarakat mengalir seperti sungai kecil yang tiba-tiba menemukan jalurnya. Hari ketiga, sekolah-sekolah, masjid, organisasi masyarakat, UMKM, komunitas motor, hingga paguyuban pelajar ikut menyumbang.
Seorang ibu di Pulau Punjung memberikan Rp10 ribu, sambil berkata, “Ini bukan soal jumlah. Ini soal hati.”
Anak-anak sekolah mengumpulkan uang jajan lalu menyerahkannya dalam amplop kecil bertuliskan, untuk saudara kami yang kena musibah.
Seorang pedagang beras memberikan setengah karung beras dengan mata berkaca-kaca karena teringat kampung keluarganya yang juga pernah dilanda banjir.
