BeritaKota Padang

Membedah Prestasi Adipura Kota Padang dan Mimpi Menuju Industri Pengolahan Sampah

15
×

Membedah Prestasi Adipura Kota Padang dan Mimpi Menuju Industri Pengolahan Sampah

Sebarkan artikel ini
Kepala Bidang Lembaga Pengelolaan Sampah (LPS) DLH Kota Padang, Luxani, SE bicara prestasi Piala Adipura Kota Padang dan mimpi menuju Industri Pengolahan Sampah
Kepala Bidang Lembaga Pengelolaan Sampah (LPS) DLH Kota Padang, Luxani, SE. (f/obral)

Mjnews.idKota Padang baru saja menyematkan bintang di pundaknya. Penghargaan Adipura 2026 berhasil dibawa pulang, menjadikannya satu-satunya kota di Sumatera yang meraih prestasi tertinggi tersebut tahun ini. Sebuah pencapaian gemilang.

Namun di balik piala bergengsi itu, ada cerita “gunung” sampah yang tak pernah tidur.

ADVERTISEMENT

Pada Kamis, 7 Mei 2026, suasana di Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang tampak sibuk. Kepala Bidang Lembaga Pengelolaan Sampah (LPS) DLH Kota Padang, Luxani, SE, menerima awak media dengan keterbukaan khasnya. Saat bincang, angka fantastis langsung terucap: produksi sampah di Padang menembus 640 hingga 750 ton per hari.

Bayangkan, setiap detik, tim kebersihan kota berjibaku melawan tumpukan sampah yang tak henti-hentinya diproduksi warga dari pasar pemerintah, pasar swasta di Tabing, hingga rumah tangga.

Pasukan Kuning dan Ratusan Armada

Untuk mengangkut volume raksasa ini ke TPS Akhir Air Dingin, DLH mengerahkan “pasukan kuning” yang berjumlah sekitar 1.200 orang. Ini adalah kombinasi tangguh antara pegawai outsourching dari tiga perusahaan dan pegawai PPPK. Mereka bergerak didukung armada yang tak sedikit: 29 unit dam truk, 9 unit ambrol, dan tak kurang dari 125 becak motor jenis viar yang lincah menembus gang-gang sempit.

Namun, mengelola sampah saat Idul Fitri adalah tantangan tersendiri. Luxani menuturkan, ada fenomena “sampah spesifik” menjelang lebaran.

“Warga membuang perabotan usang seperti kasur, meja, kursi, hingga material sisa rehab rumah. Volume sampah tambahan ini mencapai 20 hingga 30 persen, membuat angkutan ke TPS Air Dingin menembus angka 750 ton per hari,” tutur Luxani.

Dilema Nilai Adipura: Tertinggal di Industri

Kembali ke persoalan Adipura. Mengapa Padang yang sudah tertib mengelola sampah justru belum mendapat nilai sempurna (10)?

Luxani berterus terang, nilai Padang di atas 8, namun masih sedikit tertinggal dari daerah di Jawa yang meraih maksimal.

Kuncinya ada pada satu kata: Industri.

“Pengelolaan sampah di Kota Padang belum diolah ke industri. Kota lain yang peraih Adipura dengan nilai 9 hingga 10, rata-rata sudah berbasis industri pengelolaan sampah. Kita baru tahap memindahkan bak sampah ke TPS Akhir Air Dingin,” ungkanya jujur.

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT