Sumatera Barat

Pembangunan Hotel di Taman Budaya Padang Menambah Fungsi Fasilitas

713
×

Pembangunan Hotel di Taman Budaya Padang Menambah Fungsi Fasilitas

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Bina Marga Cipta Karya Tata Ruang Provinsi Sumatera Barat, Era Sukma Munaf
Kepala Dinas Bina Marga Cipta Karya Tata Ruang Provinsi Sumatera Barat, Era Sukma Munaf. (f/obral)

Padang, Mjnews.id – Rencana pembangunan hotel di Taman Budaya Padang menambah fungsi fasilitas. Demikian Kepala Dinas Bina Marga Cipta Karya Tata Ruang (BMCTR) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Era Sukma Munaf saat dijumpai awak media ini di ruang kerjanya, Senin 13 Maret 2023.

Menurut Era Sukma Munaf, kita bukan mengalihfungsikan dari rencana designer bangunan sebelumnya itu 2 lantai, tapi menambah fungsi dari rencana semula menjadi 6 lantai,” ungkapnya.

ADVERTISEMENT

Terus, fasilitas kebutuhan buat para seniman dibikin lebih representatif lagi dari sebelumnya seperti room teater, dan panggung bertaraf internasional yang disinergikan dengan fasilitas shelter sehingga terkesan megah, mewah dan wah.

Lanjutnya, ya, seperti yang telah kita sampaikan kepada rekan-rekan media sebelumnya, kenapa sih kita tak mau mencoba menyediakan fasilitas pendukung misalnya saat adanya iven kebudayaan, sehingga peserta yang ikut meramaikan iven tersebut tak jauh-jauh mencari tempat penginapan.

Soalnya, di kota ini khususnya dan Sumbar umumnya ketersedian kamar hotel masih terbilang kurang mencukupi seyogianya berlangsung kegiatan iven nasional.

“Kalau sekiranya kita sudah punya maka tarif penginapan akan bisa lebih murah dari harga tarif penginapan jika dibandingkan dengan hotel komersial”, katanya menjelaskan.

Ketika ditanyakan tentang berapa total anggaran yang dibutuhkan untuk membangun sebuah hotel berkelas internasional yang dilengkapi dengan fasilitas shelter pendukungnya, menurut gambaran, jumlah total anggaran secara gamblang Era Sukma Munaf menaksir lebih dari 300 miliar rupiah.

Namun seluruh gambaran skema sumber pendanaan pada rencana proyek ini, Era Sukma Munaf menyebutkan, belum tahu secara pasti.

“Ya, bebas sajalah nantinya, apakah kita (pemerintah) kerja sama dengan KPBU (Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha), atau dengan sumber pendanaan melalui investasi. Terkait ini sama sekali kita belum menetapkannya. Karena nantinya, kita bisa memilih mana skema sumber pendanaan yang lebih bagus buat kita gunakan”, ulasnya pula.

Dijelaskan, seyogianya Pemerintah Provinsi Sumbar melalui pendanaan investasi dengan sistem Hak Guna Bangunan (HGB) setelah sampai dengan batas waktunya maka bangunan menyeluruh kembali menjadi milik pemerintah daerah provinsi ini.

“Tetapi semua gambaran sumber pendanaan serta sistem kerjasama pemerintah kita belum menetapkan sama sekali versi sumber pendanaan mana yang mau kita pakai nanti”, ulasnya.

“Namun, Dinas BMCTR Sumbar hanya sebagai inisiasi atau penggagas semata. Setelah semua fisik bangunan selesai secara teknis ke-PU-an, maka penggunaan bangunan perhotelan tersebut sistem manajemen kerja sama seperti apa, ya terserah lah nanti sesuai versi Pemdaprov Sumbar untuk memenej ke depannya versi kerjasama seperti apalah,” tuturnya.

Terkait ini, ketika awak dari media ini mencoba ‘mengintip’ intrik dari kemauan Kepala Dinas BMCTR Sumbar, Era Sukma Munaf sepertinya tidak punya sebuah ‘permainan’ dalam menggolkan rencana ekslusif membangun sebuah hotel berkelas internasional di Taman Budaya Padang ini.

Buktinya, ketika awak dari media ini sengaja melakukan wawancara khusus empat mata dengannya, Era Sukma Munaf menampung semua ide yang berlogika. Baik penggunaan sumber pendanaan dan sistem manajemen operasional komersial investasi mau pun dengan sistem operasional manajemen melalui Perusahaan Daerah (Perusda) dan atau pun melalui sistem operasional manajemen melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

“Apakah mau di-BLUD-kan di bawah naungan Dinas Kebudayaan maupun di bawah naungan Dinas Pariwisata, ya terserah, mana yang lebih baguslah menurut Pemprov Sumbar”, jelasnya.

Terkait dengan ‘pancingan’ dari awak media ini, Era Sukma Munaf ternyata tidak punya tendensi tertentu kecuali hanya menginginkan Pemasukan Asli Daerah (PAD) yang digagas Dinas BMCTR Sumbar dapat menjadi kenyataan yang berbuah keuntungan menjadi investasi.

Di sini, Era Sukma Munaf ingin melihat bahwa bangunan perhotelan bisa menjadi sumber pengayaan bagi pemasukan APBD Sumbar atas gagasan ini yang hasilnya menjadi milik APBD Sumbar secara totalitas pula.

“Namun adanya pendapat dan kecanggungan dari beberapa orang tokoh seniman dan budayawan serta tokoh politisi bahwa ini merupakan hal yang lumrah saja,” sebut Era Sukma Munaf.

“Biasalah, basilang kayu di tungku, sedangkan tujuan kita dengannya sama saja menuju Sumbar yang lebih baik kedepannya baik dilihat dari kaca mata nasional dan internasional, bahwa fasilitas buat seniman bisa kita banggakan dengan segala selter pendukung hadirnya sebuah hotel bertaraf eksklusif”, timpalnya menjelaskan.

Dengan hadirnya sebuah hotel yang didukung oleh fasilitas market, kafe atau sejenis usaha yang bisa membikin ramai sehingga tempat itu tidak sepi saja, sehingga hasil dari fasilitas yang dibangun dapat menghasilkan sehingga bisa membantu biaya operasional ketimbang ditanggung APBD semuanya.

“Ya, paling tidak dari hasil itu bisa menyumbang biaya operasional separuhnya, lah”, ungkapnya.

“Sehingga terkait dengan fasilitas kebutuhan seniman, segala jenis ruangan sebagai tempat berekspresi, malah semakin megah, dan wah. Karena fasilitas untuk ber-kreasi buat seniman ini semakin lengkap apalagi setelah dilengkapi pula dengan fasilitas digitalisasi”, pungkasnya.

(obral)

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *