BeritaInternasionalKabupaten Sijunjung

WNA Belanda Keluarga Keturunan Pekerja Romusha Napak Tilas Pembangunan Jalur Rel Kereta Api Muaro Sijunjung–Pekanbaru

22
×

WNA Belanda Keluarga Keturunan Pekerja Romusha Napak Tilas Pembangunan Jalur Rel Kereta Api Muaro Sijunjung–Pekanbaru

Sebarkan artikel ini
WNA Belanda Keluarga Keturunan Pekerja Romusha berkunjung ke Kabupaten Sijunjung
WNA Belanda Keluarga Keturunan Pekerja Romusha berkunjung ke Kabupaten Sijunjung. (f/ist)

Mjnews.id – Bupati Sijunjung, Benny Dwifa Yuswir menerima kunjungan WNA asal Belanda yang merupakan keluarga keturunan pekerja romusha pada masa Perang Dunia II di kediaman Bupati, Sabtu (16/5/2026) malam.

Pada saat itu, Bupati didampingi Plh. Sekretaris Daerah, Jaheri, Asisten Lingkup Setdakab, Ketua TP PKK, Ny. Nedia Fitri Benny Dwifa serta Kepala OPD terkait.

ADVERTISEMENT

Kedatangan rombongan tersebut bukan sekadar perjalanan wisata biasa. Mereka datang untuk menapaktilasi jejak sejarah kelam pembangunan jalur rel kereta api Muaro Sijunjung–Pekanbaru yang dibangun dengan kerja paksa oleh tentara Jepang pada tahun 1943 hingga 1945.

Rombongan diajak berziarah ke bekas lokasi tempat orang tua mereka dahulu dipekerjakan sebagai romusha di kawasan lokomotif Durian Gadang dan berwisata di Ngalau Basurek Silokek.

Ketua Yayasan Peringatan Jalur Kereta Api Burma Siam dan Kereta Api Muaro-Pekanbaru, Wouter Neohouse, mengungkapkan rasa haru bisa menginjakkan kaki langsung di tanah yang menjadi saksi penderitaan para pekerja paksa puluhan tahun silam.

“Kami adalah keluarga keturunan bekas pekerja romusha Belanda yang dipekerjakan oleh tentara Jepang dalam pembangunan jalur rel dari Pekanbaru ke Muaro Sijunjung 80 tahun yang lalu,” ungkapnya.

Kemudian, Wouter menyerahkan bunga melati sebagai simbol hubungan sejarah antara Belanda dan Indonesia kepada Bupati Sijunjung. Ia juga memberikan sebuah buku dokumentasi berisi potret dan kisah singkat para mantan pekerja romusha.

“Kami yang hadir ini ada kaitannya dengan pekerja romusha, sebagian kami ada yang darah Indonesia dan ada yang lahir di Indonesia, kami menggunakan melati sebagai simbol hubungan diantara kami, sekarang saya ingin memberikan melati ini kepada bapak bupati,” tambahnya.

Ia menyebut, selama ini kisah tentang jalur kereta api maut itu hanya mereka dengar dari cerita keluarga dan dokumen sejarah. Namun kini, mereka dapat melihat langsung lokasi tempat para leluhur mereka pernah bekerja di bawah tekanan dan kekejaman perang.

“Ini pertama kalinya kami datang ke Sijunjung. Awalnya tujuan kami hanya untuk berziarah, tetapi ternyata kami seperti sedang berwisata karena alam Sijunjung sangat indah,” katanya.

Wouter juga menceritakan bahwa beberapa hari sebelumnya mereka telah menggelar upacara peringatan di Pekanbaru untuk mengenang ribuan romusha yang meninggal dunia saat pembangunan rel kereta api tersebut.

Tak hanya itu, setiap bulan Agustus di Belanda juga rutin dilaksanakan upacara mengenang kekejaman kerja paksa pada masa Perang Dunia II.

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT