BeritaSumatera Barat

Akibat Banjir, Areal Pertanian Tanaman Pangan Sumbar Terdampak Seluas 4.823 Hektare

586
×

Akibat Banjir, Areal Pertanian Tanaman Pangan Sumbar Terdampak Seluas 4.823 Hektare

Sebarkan artikel ini
Areal Pertanian Terdampak Banjir Di Sumatera Barat
Salah satu Areal pertanian terdampak banjir di Sumatera Barat. (f/ist)

Mjnews.id – Pada Kamis sore hingga Kamis malam 7-8 Maret 2024, hujan deras mengguyur Sumatera Barat (Sumbar), sehingga menimbulkan banjir dahsyat yang mengakibatkan areal tanaman pangan jenis padi dan sayuran terdampak sekitar 4.823 hektare.

Dari informasi dari laporan masing-masing daerah kabupaten dan kota se-Sumbar yang masuk ke data info Pertahorbun Sumbar, khusus tanaman padi yang terdampak sekitar 980 hektare, tanaman sayuran lainnya sekitar 155,7 hektare.

Banner Pemkab Muba Idul Fitri 1445 H

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan (Pertahorbun) Provinsi Sumbar, Febrina Tri Sula melalui Sekretaris Dinas (Sekdin) Pertahorbun Sumbar, Ferdinal Asmin mengatakan hal ini saat dijumpai di ruang kerjanya oleh awak media, Kamis 21 Maret 2024.

Menurut Ferdinal Asmin, kerugian materi pada sektor pertanian tanaman pangan akibat terdampak banjir ini belum ditaksir.

“Sebaiknya dikonfirmasikan ke Satgas BPBD daerah terkait yang terdampak banjir,” pintanya.

Dikatakannya, sekaitan ini inovasi untuk pertanian berkelanjutan diantaranya tentang penyediaan benih unggul lokal, penerapan smart technology, perbaikan cara budidaya yang efektif dan efesien, hilirisasi produk pertanian serta optimalisasi mekanisme/modernisasi pertanian.

Lanjut Asmin, inovasi yang diinisiasi tentunya juga berdampak pada penguatan posisi Sumbar sebagai produsen (lumbung) pangan dan sayuran/buah di wilayah Pulau Sumatera.

Terkait dengan antisipasi perubahan iklim dan lingkungan, Asmin menyebutkan, Dinas Pertahorbun terus mengembangkan upaya adaptasi dan mitigasi diantaranya promosi budidaya ramah lingkungan, optimalisasi produksi pangan tahan iklim pada lahan-lahan kering (budidaya padi gogo).

“Termasuk optimalisasi irigasi perpompaan pada lahan tadah hujan, dan pengembangan budidaya tanaman lokal”, pungkasnya.

(*)

Kami Hadir di Google News