Sekolah ini akan didukung oleh 12 guru, terdiri dari 6 laki-laki dan 6 perempuan.
Pada hari kedua simulasi, kegiatan diawali dengan salat subuh, dilanjutkan senam pagi, sarapan, mandi, dan pengenalan lingkungan serta fasilitas sekolah. Para siswa dibagi menjadi tiga kelompok, didampingi guru untuk berkeliling mengenal sarana dan prasarana.
Setelah makan siang bersama, mereka dibereskan dan dipulangkan, disambut antusias oleh orang tua di gerbang sekolah.
Salah satu murid, Muhammad Haris, menyatakan kegembiraannya mengikuti simulasi selama 2 hari 1 malam.
“Senang banget. Enggak sabar mau sekolah di sini. Soalnya di sini enak, enggak stres karena banyak belajar sambil bermain,” ucapnya polos, menggambarkan suasana belajar yang menyenangkan meskipun dengan disiplin tinggi.
Inovasi pendidikan yang diterapkan Kemensos melalui Sekolah Rakyat ini menarik untuk dicermati. Akankah model disiplin ketat tanpa gawai ini menjadi cetak biru bagi pendidikan di masa depan.
(*/eki)












