Mjnews.id – Komitmen pemerintah daerah dalam menjaga denyut ekonomi masyarakat kembali ditegaskan. Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani, dengan turun langsung meninjau lanjutan pembangunan Jembatan Batang Mimpi di Nagari Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung, Senin (4/05/2026).
Peninjauan ini bukan sekadar seremonial. Bupati ingin memastikan progres pekerjaan berjalan sesuai rencana, sekaligus melihat langsung bagaimana jembatan tersebut nantinya akan dimanfaatkan masyarakat sebagai akses vital.
Melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), pemerintah daerah menggelontorkan anggaran sebesar Rp489 juta untuk pekerjaan lanjutan berupa pemasangan batu bronjong. Langkah ini difokuskan pada penguatan pondasi jembatan agar lebih tahan terhadap gerusan arus sungai, terutama saat debit air meningkat.
Penggunaan bronjong dinilai krusial. Selain memperkokoh struktur, metode ini juga menjadi upaya antisipatif agar jembatan tetap aman dan berfungsi dalam jangka panjang tidak sekadar dibangun, tetapi benar-benar berkelanjutan.
Pembangunan Jembatan Batang Mimpi sendiri merupakan bagian dari upaya Pemkab Dharmasraya menjawab kebutuhan riil masyarakat, khususnya dalam menjaga kelancaran akses produksi.
Dalam kunjungan tersebut, Bupati Annisa didampingi Anggota DPRD Dharmasraya Teddy Wallian, Kepala Dinas PUPR Zakirman, Camat Pulau Punjung Erik Harja, Kabid Cipta Karya Willy Kurniawan, serta Wali Nagari Sikabau Abdul Razak bersama perangkat nagari, Babinsa, dan tokoh masyarakat.
Apresiasi warga terhadap Pemkab Dharmasraya
Apresiasi pun datang dari warga. Tokoh masyarakat Sikabau, Herianto Datuak Mandaro, menilai perhatian pemerintah daerah terhadap pembangunan jembatan ini sangat berarti.
“Kami sangat berterima kasih kepada Ibu Bupati Annisa yang telah mengabulkan aspirasi masyarakat. Jembatan ini adalah urat nadi perekonomian warga,” ujarnya.
Ia berharap proses pembangunan berjalan lancar hingga tuntas, sehingga jembatan dapat segera dimanfaatkan secara optimal. Bagi masyarakat Sikabau, keberadaan jembatan ini bukan sekadar penghubung wilayah, melainkan jalur utama untuk mengangkut hasil pertanian dan perkebunan terutama sawit dan karet yang menjadi tumpuan hidup sehari-hari.
(Sutan)












