Oleh : Dila Salsabila
Mjnews.id – Coping mechanism atau stategi coping adalah sebuah tindakan atau strategi yang dilakukan individu untuk melepas tekanan yang mengganggu dirinya. Strategi ini bertujuan untuk mengatasi situasi serta tuntutan yang dirasa sangat membebani dan membuat stres.
Sebenarnya, tanpa kita sadari, kita sering sekali melakukan coping mechanism. Contohnya, ketika seseorang baru saja melalui hari yang berat, dan setelahnya ia akan menonton video kucing di Instagram untuk menghilangkan rasa lelahnya. Dari hal sekecil itupun, coping mechanism kita sebenarnya sudah terbentuk.
Setiap individu memiliki reaksi yang berbeda-beda ketika dihadapkan pada sebuah situasi, tergantung dengan kepribadian serta situasi apa yang sedang dialami. Kekuatan mental tiap individu juga memiliki batasnya masing-masing yang hanya diketahui oleh yang bersangkutan. Maka dari itu coping mechanism yang diterapkan tiap individu juga berbeda-beda.
Di masa pandemi ini, tentunya banyak dari kita yang merasa sangat tertekan dan jika dibiarkan terus-menerus, itu dapat mempengaruhi kesehatan mental atau malah mendatangkan penyakit lain. Maka dari itu, untuk meminimalisir stres, setiap orang harus mempunyai coping mechanism-nya masing-masing.
Umumnya, ada dua jenis coping mechanism yang dapat diterapkan, yaitu emotion-focused coping (berfokus pada emosi), dan problem-focused coping (berfokus pada penyelesaian masalah yang dihadapi).
Emotion-focused coping adalah strategi yang fokus pada emosi yang bersangkutan, yaitu usaha untuk mengelola emosi dan mengendalikan diri ketika dihadapkan pada situasi yang kurang menyenangkan.
Contohnya saat pandemi ini. Tidak ada yang mengetahui sampai kapan pandemi ini akan berlangsung, dan ketidakpastian tersebut justru membuat banyak orang merasa tertekan, apalagi ditambah dengan pemberitaan yang ada di media.
Dari contoh tersebut dapat dilihat bahwa pengendalian diri yang dibutuhkan adalah pengendalian diri ketika menggunakan media sosial, yaitu tidak langsung panik apabila ada berita yang negatif.
Sedangkan problem-focused coping adalah strategi yang fokus pada bagaimana cara menyelesaikan atau melewati situasi yang kurang menyenangkan.
Contohnya ketika seorang mahasiswa sedang merasa stres dan tertekan dengan segala deadline tugasnya yang saling berdekatan, maka ia mencoba mencari solusi dengan membuat jadwal pengerjaan tugas-tugas tersebut dan mengatur waktu sedemikian rupa agar tugas tersebut dapat selesai tepat waktu dan tidak membuat yang bersangkutan merasa tertekan ketika mengerjakannya.
Menghindar atau kabur juga merupakan strategi dari problem-focused coping, tetapi lebih condong pada strategi yang negatif. Karena ketika sedang dihadapkan pada situasi yang membuat tertekan, banyak orang justru memilih untuk ‘melarikan diri’.
Sebenarnya, menghindar juga boleh-boleh saja jika dirasa situasi yang sedang dihadapi terlalu berat karena kekuatan mental serta keterampilan melakukan coping mechanism setiap orang berbeda-beda.
Tetapi yang harus diingat adalah jangan melarikan diri ke lingkungan yang justru malah menambah tekanan dan memberikan dampak buruk.
(***)
Penulis, Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Andalas, Limau Manis Kota Padang





