Mjnews.id – Rasa canggung dalam berinteraksi adalah hal yang lumrah atau umum dirasakan oleh orang yang berada di lingkungan sosial yang baru. Bagaimana tidak, bertemu dengan orang baru, di daerah yang tidak kita kenali, bahasa atau logat yang asing di telinga, dan kita harus berinteraksi dengan mereka, tentu saja kita merasa canggung.
Penulis : Zahra Aulya
Fenomena ini makin menjamur di tengah lingkungan sosial kita ketika virus Covid-19 menyebar di dunia. Dampak dari virus ini membuat manusia terpaksa untuk tinggal di rumah dan mengurangi interaksi sosial. Bagi orang yang terbisa bertemu dengan banyak orang, mereka menjadi depresi dan mengalami stress berat.
Setelah virus Covid-19 berhasil diberantas, manusia kembali hidup normal. Tidak ada lagi larangan untuk berinteraksi dengan orang lain. Individu bebas pergi kemanapun mereka mau dengan teman-temannya atau menginap di rumah temannya untuk melepas rasa rindu akibat program PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang diterapkan pemerintah.
Tapi tanpa disadari rasa canggung mulai datang. Interaksi yang biasa dilakukan mulai terasa aneh dan asing. Hal tersebut wajar karena kita mengalami pembatasan sosial hampir lebih dari satu tahun tanpa interaksi. Padahal manusia adalah makhluk zoon politicon yang berarti makhluk sosial yang harus berinteraksi antar sesama kelompoknya.
Dalam ranah ilmu komunikasi, tidak ada alasan untuk manusia tidak berkomunikasi. Setiap manusia itu berkomunikasi, baik itu secara verbal ataupun non verbal. Bahkan Everett M. Rogers dan Lawrence Kincaid (1981) mengatakan diam adalah komunikasi.
Jadi manusia tidak mungkin untuk tidak berkomunikasi dan rasa canggung tersebut harus dihilangkan.
Ada satu cara untuk menghilangkan rasa canggung tersebut, yakni dengan cara uncertainty reduction theory atau Teori Pengurangan Ketidakpastian.
Teori Uncertainty Reduction Theory (URT) adalah teori karya Charles Berger. Menurut Berger, ketika berkomunikasi, kita membuat rencana untuk mencapai tujuan kita. Layaknya menembakkan anak panah dari busur, kita harus berhati-hati dalam membidik dan mengarahkan supaya tepat pada sasarannya.
Semakin kita penasaran dan waspada sama orang baru, semakin kita berusaha mencari data-data informasi tentang orang tersebut. Bisa dari pendapat temannya, observasi, atau langsung berkenalan dengannya.
Semakin tinggi kecurigaan atau ketidakpastian kita, semakin kita sadar untuk lebih berhati-hati menyiapkan rencana atau bahkan kita menyiapkan rencana darurat atau rencana alternatif dalam merespon orang tersebut.
Ayo, apakah kamu juga melakukan hal yang sama seperti kata Berger?









