Opini

Pers, Pilar Keempat Demokrasi yang Terlupakan

528
×

Pers, Pilar Keempat Demokrasi yang Terlupakan

Sebarkan artikel ini
Erwin Syahputra Siregar
Erwin Syahputra Siregar. (f/ist)

Tantangan Pers di Era Digital

Di era digital, tantangan yang dihadapi pers semakin kompleks:

  • Banjir Informasi dan Hoaks: Wartawan kini harus menjadi verifikator di tengah tsunami informasi palsu.
  • Isu SARA dan Polarisasi: Media harus menjaga keutuhan bangsa dari retakan identitas.
  • Tekanan Ekonomi dan Algoritma: Independensi pers terancam oleh model bisnis yang mengutamakan klik daripada kualitas.
  • Intervensi Politik: Media yang seharusnya netral sering kali terjebak dalam pusaran kepentingan elite.

Namun, tantangan terbesar tetap sama: menjaga integritas dan keberanian untuk berdiri di sisi kebenaran, meski berisiko.

ADVERTISEMENT

Demokrasi Butuh Pers yang Merdeka

Demokrasi yang sehat tidak bisa hidup tanpa pers yang bebas. Wartawan bukan musuh negara, melainkan mitra kritis yang membantu membangun bangsa. Menghormati dan melindungi kebebasan pers bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga investasi politik untuk masa depan Indonesia.

Jika pers terus dilupakan, maka demokrasi akan kehilangan cerminnya. Sudah saatnya kita mengembalikan martabat pers sebagai pilar keempat demokrasi—bukan pelengkap, tapi penentu arah bangsa.

Penulis, Wakil Ketua Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) Senayan

(*)

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT