Opini

Ratu Ghania, Beauty Influencer Pendobrak Standar Kecantikan Ideal Perempuan Indonesia

383
×

Ratu Ghania, Beauty Influencer Pendobrak Standar Kecantikan Ideal Perempuan Indonesia

Sebarkan artikel ini
Ratu Ghania merupakan seorang beauty influencer sekaligus acne fighter
Ratu Ghania. (f/ist)

Ratu Ghania merupakan seorang beauty influencer sekaligus acne fighter yang aktif membagikan pengalaman perjalanan jerawatnya di media sosial.

Oleh: Silis

Mjnews.id – Meskipun Ratu memiliki permasalahan pada wajahnya ia tetap konsisten membagikan ulasan produk kecantikan, yang juga turut membawa komentar negatif dari pengguna media sosial, karena tidak memenuhi penampilan ideal mayoritas influencer kecantikan lainnya seperti Tasya Farasya, Rachel Goddard, dan lain-lain.

ADVERTISEMENT

Berbeda dari citra beauty influencer pada umumnya yang sering kali menampilkan wajah mulus dan ideal, Ratu tampil dengan penampilan yang realistis dan apa adanya, kulit berjerawat menjadi ciri khasnya.

Ratu Ghania dikenal bukan hanya sebagai pembuat konten kecantikan, tetapi juga sebagai figur publik yang berfokus pada isu self-acceptance, mental health awareness, dan body positivity, terutama dalam konteks pengalaman pribadi menghadapi jerawat.

Konten yang dibagikan oleh @ratughania meliputi berbagai tema seperti review produk perawatan kulit (skincare), tutorial penggunaan produk kecantikan, edukasi dermatologis ringan seputar jerawat, serta pesan-pesan motivatif tentang menerima kondisi kulit apa adanya. Setiap unggahan tidak hanya berfungsi sebagai media promosi produk, tetapi juga sebagai ruang diskusi antara influencer dan pengikutnya tentang pengalaman emosional terkait jerawat dan kepercayaan diri.

Visual yang ditampilkan di akun ini juga menarik karena tidak mengikuti pola estetika “beauty influencer” konvensional. Alih-alih menonjolkan kulit mulus atau menggunakan filter berlebih, Ratu Ghania justru memperlihatkan tekstur kulit nyata, jerawat aktif, bekas luka, dan perubahan kondisi kulit dari waktu ke waktu.

Pilihan ini memperkuat kesan kejujuran dan memberikan bentuk resistensi terhadap standar kecantikan yang menuntut kesempurnaan visual.

Keberanian ini menjadi bentuk perlawanan terhadap standar kecantikan dominan yang selama ini diyakini oleh masyarakat, khususnya dalam lanskap media sosial, di mana media sering kali menanamkan pemahaman bahwa cantik berarti memiliki kulit putih, tubuh langsing, dan wajah sempurna.

Standar kecantikan sendiri merupakan konstruksi sosial yang dibentuk oleh media serta budaya patriarki. Kecantikan sejak dahulu memang identik dengan kaum perempuan dan menjadi kontrol sosial bagi mereka.

Naomi Wolf menyatakan bahwa mitos kecantikan digunakan untuk mengontrol perempuan dengan mengarahkan perhatian mereka kepada penampilan fisik semata. Ketika media sosial berkembang menjadi ruang yang sangat personal sekaligus publik, tekanan terhadap perempuan untuk memenuhi standar ini semakin intens.

Social appearance comparison menjadi fenomena yang umum terjadi, ketika individu terus membandingkan penampilannya dengan gambaran ideal di media sosial.

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT