Opini

Jebakan Hubungan Parasosial di Balik Tren Live Streaming

19
×

Jebakan Hubungan Parasosial di Balik Tren Live Streaming

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Jebakan Hubungan Parasosial di Balik Tren Live Streaming
Ilustrasi Jebakan Hubungan Parasosial di Balik Tren Live Streaming. (f/health-clevelandclinic-org)

Sisi Gelap: Antara Nyaman dan Obsesi

Sebagai insan komunikasi, kita perlu melihat fenomena ini secara proporsional. Di satu sisi, hubungan parasosial bisa berdampak positif. Bagi banyak orang, terutama di tengah kesepian urban atau tekanan akademis, kehadiran para comfort creators lewat live streaming menjadi ruang pelarian yang menghibur dan meredakan kecemasan. Mereka menemukan komunitas sesama penggemar di kolom komentar, menciptakan ruang publik baru yang solid.

Namun, bahaya laten muncul ketika ilusi ini berubah menjadi obsesi atau ekspektasi yang tidak realistis. Karena merasa “sudah sangat kenal,” sebagian audiens mulai mengatur kehidupan pribadi si kreator, merasa berhak marah jika si kreator melakukan kesalahan kecil, hingga melakukan cyberbullying ketika realitas si kreator tidak sesuai dengan fantasi mereka.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, audiens juga berisiko mengabaikan hubungan sosial interpersonal di dunia nyata (real-world relationships) karena energinya sudah habis dikuras untuk merawat hubungan imajiner di dalam layar.

Merayakan Layar dengan Kesadaran

Tren live streaming jelas tidak akan meredup dalam waktu dekat; ia justru akan terus berevolusi dengan algoritma yang semakin pintar membaca kesepian manusia. Pergeseran ini mengingatkan kita bahwa media digital hari ini tidak lagi sekadar alat untuk bertukar informasi, melainkan telah menjadi arsitek yang merancang bagaimana kita berteman dan merasakan kedekatan.

Hubungan parasosial tidak perlu dihindari, karena itu adalah respons psikologis yang wajar dalam lanskap media modern. Namun, sebagai konsumen media yang cerdas, kita dituntut untuk memiliki literasi digital dan komunikasi yang kuat.

Kita harus bisa menikmati hiburan dan kehangatan yang ditawarkan oleh para kreator di layar gawai, tanpa pernah lupa menarik garis tegas antara keintiman buatan algoritma dan kehangatan hubungan yang nyata di dunia nyata.

Bagaimanapun, teman terbaik adalah mereka yang bisa membalas pelukan kita, bukan mereka yang hanya bisa membaca nama kita di kolom komentar saat kuota internet masih menyala. (*)

Penulis, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas (Unand) Padang

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT