Mjnews.id -Payakumbuh Botuang Festival (PBF) Kota Payakumbuh yang digelar di pelataran parkir Ngalau Indah selama 3 hari 11-13 Juli 2024, tuai kritikan.
Kadis Parpora Nofriwandi, kepada wartawan Minggu 14 Juli 2024 via whatsapp nya mengatakan bahwa kegiatan PFB menghabiskan anggaran sebesar Rp450 juta dengan rincian dari Kementrian (pusat) Rp145 juta, Provinsi Rp50 juta dan APBD kota Payakumbuh sebesar Rp225 juta.
Ditambahkan Nofriwandi, pihaknya sangat hati-hati menggunakan APBD, tidak ada istilah kongkalingkong dalam penyelenggaraan PFB ini, semuanya transparan dan kami sangat terbuka dengan siapa saja,” tutup Kadisporpora.
Di sisi lain, Ketua KAN Aua Kuniang, Bujang M Nur Dt. Paduko Marajo, mengkritisi kegiatan PBF yang diselenggarakan Disporpora itu, karena Disporpora selaku leading sector kegiatan PFB, terkesan abai masyarakat Aur Kuniang.
“Padahal di Nagari Aur Kuning Kota Payakumbuh dari tahun 1990 sampai saat ini profesi masyarakatnya di latar belakangi dengan bekerja sebagai pengrajin Batuang (Bambu), namun di acara yang begitu besar ini warga kamai seakan ditinggalkan,” kata Bujang M.Nur.
Bujang M. Nur juga menyebutkan, semestinya Disporpora Payakumbuh harus melibatkan warga kami di acara Iven PFB yang menelan anggaran ratusan juta itu.
“Karena kalau warga kami dilibatkan tentu akan bisa menambah perekonomian masyarakat Aua Kuniang selaku pelaku UMKM Batuang, yang berguna untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan memenuhi kebutuhan hidup,” ucap Bujang M.Nur.
Disampaikan Bujang M.Nur, seharusnya kegiatan Payokumbuah Botuang Festival itu, hendaknya dapat memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat terkhusus pelaku UMKM Batuang, dan membuat masyarakat sadar dan terus berupaya berinovasi dalam melakukan pengolahan terhadap bambu sehingga industri dan ekonomi kreatif yang ada dapat meningkat.
“Percuma saja Nagari Aua Kuniang ini dikenal sebagai Kampung Pengrajin Bambu di mana masyarakatnya kebanyakan berprofesi sebagai pengrajin bambu. Namun hal ini tentu belum membuat masyarakat setempat memiliki penghasilan lebih karena kerajinan yang selama ini terbatas di anyaman bambu, pagar, kandang ayam, dan bentuk kerajinan lainnya,” ujarnya.
Ditambahkan Bujang M.Nur, kegiatan Payokumbuah Botuang Festival itu juga terkesan tak libatkan niniak mamak. Salah satu bentuk kekecewaan kami, tak satu pun Niniak Mamak maupun perwakilan KAN yang hadir saat acara PFB itu.
Dia berharap agar pada tahun berikut nya,wali kota terpilih nanti nya bisa membawa pelaku UMKM Batuang anak nagari Aua Kuniang dalam acara PFB itu,dan bisa bekerja sama dengan Niniak Mamak yang ada di 10 nagari di Kota Payakumbuh, demi mensukseskan Payokumbuah Botuang Festival itu nantinya.
Terpisah, salah seorang pemerhati seni dan budaya Zulhefrimen.SH warga kelurahan Tanjung Pauh, kecamatan Payakumbuh Barat, kepada media online ini, Minggu 14 Juli 2024, menegaskan, setiap kegiatan dananya bersumber dari APBD wajib diperiksa pihak yang berwajib.
“Kami juga berharap kepada pihak-pihak terkait untuk mengawasi pendanaannya, karena kegiatan ini bersumber dari APBD. Kemudian azas mamfaatnya juga jelas. Kita tidak ingin mendengar berujung atau berbuntut lain,”tegas pengacara kondang itu.
Sebelumnya, Pj. Walikota Payakumbuh Suprayitno mengharapkan melalui iven PBF ini, bisa memperlihatkan kepada dunia betapa beragamnya potensi yang terkandung dalam bambu.
Selain itu, dia juga ingin menyoroti pentingnya pemanfaatan bambu dalam menggerakkan perekonomian lokal, membuka lapangan kerja baru, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Di festival ini akan jadi sebuah platform untuk mempromosikan kreativitas, keahlian, dan produk- produk lokal yang terkait dengan bambu ini,” kata Pj. Wako Suprayitno saat pembukaan PBF di Medan Nan Bapaneh kawasan Ngalau Indah, Kamis 11 Juli 2024 malam itu.
Suprayitno menyebut, karena PBF sebagai bagian dari KEN, Pemko Payakumbuh berkomitmen untuk memajukan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif serta menjadikan Payakumbuh sebagai tujuan wisata unggulan di Indonesia.
“Harapan kita PBF ini dapat meningkatkan pariwisata di Payakumbuh, dan menjadi penggerak aktivitas ekonomi sekaligus memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal dan kesejahteraan masyarakat,”ucapnya.
Kami juga berterimakasih kepada panitia, seluruh pengrajin, seniman, dan pekerja seni, budayawan Payakumbuh, serta sekolah yang telah berdedikasi untuk mempersiapkan menyukseskan acara ini.
“Semangat dan kerja keras bapak/ibu semua adalah aset berharga bagi pembangunan dan kemajuan pariwisata di kota Payakumbuh,” tutupnya.
(Yud)












