Padang PanjangReligiSumatera Barat

Padang Panjang Sepi Perayaan Tahun Baru Islam

185
×

Padang Panjang Sepi Perayaan Tahun Baru Islam

Sebarkan artikel ini
Nasrulah Nukman
Nasrulah Nukman. (f/maison)

MJNews.id – Muharram 1445 Hijriah, yang juga dikenal sebagai Tahun Baru Islam, akan jatuh pada tanggal 19 Juli 2023. Bulan pertama dalam kalender Hijriah ini dianggap sebagai bulan yang dihormati.

Meskipun tinggal di daerah yang disebut Serambi Mekkah, tidak ada kegiatan khusus yang dilakukan untuk menyambut Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1445 H, di Kota Padang Panjang. Beberapa kalangan menyayangkan hal ini, karena sangat berbeda dengan perayaan Tahun Baru Masehi yang meriah.

Banner Pemkab Muba Idul Fitri 1445 H

Hal ini diungkapkan oleh Buya Nasrulah Nukman saat berbincang dengan MJNews.id di rumahnya pada hari Selasa, 18 Juli 2023.

Perayaan untuk memperingati Tahun Baru Islam tidak terlihat hingga siang hari ini. Tidak hanya kegiatan resmi dari pemerintah daerah, tetapi juga perayaan sederhana dari masyarakat tidak dilakukan di kota ini.

“Sungguh memprihatinkan bahwa kota Padang Panjang yang dijuluki Serambi Mekkah tidak mencerminkan julukan tersebut. Seharusnya, kita memahami arti pergantian tahun dalam kalender umat Islam ini,” tegas Buya.

Keadaan ini tentu mengecewakan banyak kalangan yang merasa malu menjadi bagian dari masyarakat di kota Serambi Mekkah. “Kita dikenal dengan budaya Islam yang kental, namun tidak ada sama sekali perayaan untuk 1 Muharram, berbeda sekali dengan perayaan Tahun Baru Masehi yang dirayakan dengan pesta kembang api, terompet, dan pesta pora hingga larut malam,” jelas Nasrulah, tokoh utama dari PKS.

Buya juga menjelaskan bahwa antusiasme menyambut Tahun Baru Masehi tidak hanya terlihat dari masyarakat yang berbondong-bondong pergi ke tempat-tempat keramaian untuk menyambut pergantian tahun.

“Sayangnya, pergantian Tahun Baru Islam sepi dari kegiatan keagamaan. Padahal, sebagai kota Serambi Mekkah, tempat lahirnya tokoh-tokoh agama terkemuka, julukan tersebut seolah-olah hanya menjadi simbol yang diucapkan saja,” terang Nasrulah.

Kondisi seperti ini tidak hanya mengubah tradisi bagi masyarakat Padang Panjang, tetapi juga menjadi alat pengenalan bagi generasi muda yang akhirnya terbiasa mengikuti jejak negatif tersebut.

“Bagaimana mungkin remaja sekarang diwajibkan untuk menghabiskan malam tahun baru di tepi pantai atau tempat keramaian, sedangkan Tahun Baru Islam sama sekali tidak dikenal oleh mereka,” ungkap Mubaligh ini.

Untuk mengembalikan marwah Kota Serambi Mekkah yang hampir lenyap, ini adalah tugas kita sebagai umat Islam. Artinya, kita tidak boleh terus-menerus melakukan kebiasaan ini. Jika tidak, kota dan masyarakatnya akan selalu mengabaikan setiap pergantian Tahun Baru Islam.

Yang kita harapkan adalah adanya sedikit kegembiraan di kota ini. Ini adalah pertanda bahwa kita menyambut pergantian tahun baru. Namun, saat ini tidak ada sama sekali. Jika pun ada, kegembiraannya tidak sampai ke lapisan masyarakat. Ini berbeda dengan penyambutan Tahun Baru Masehi, di mana masyarakat melakukan berbagai upaya untuk menyambut kedatangannya.

(Son)

Kami Hadir di Google News