Solok SelatanBudayaSumatera Barat

KAN Alam Pauh Duo Laksanakan ‘Mambantai Kabau Nan Gadang’ dan ‘Makan Bajamba’, Ada Apa?

173
×

KAN Alam Pauh Duo Laksanakan ‘Mambantai Kabau Nan Gadang’ dan ‘Makan Bajamba’, Ada Apa?

Sebarkan artikel ini
Kan Alam Pauh Duo Laksanakan ‘Mambantai Kabau Nan Gadang’ Dan ‘Makan Bajamba'
KAN Alam Pauh Duo Laksanakan ‘Mambantai Kabau Nan Gadang’ dan ‘Makan Bajamba. (f/diskominfo)

Mjnews.id – Masyarakat adat di bawah lingkungan Kerapatan Adat Nagari/KAN Alam Pauh Duo Kecamatan Pauh Duo melaksanakan tradisi dan budaya ‘Membantai Kabau Nan Gadang’ dan ‘Makan Bajamba’. Acara ini digelar jelang pelaksanaan turun ke sawah bersama pada musim tanam tahun 2023 ini.

‘Mambantai kabau nan gadang’ pelaksanaannya diawali dengan penyembelihan kerbau oleh kaum-kaum atau suku di Pauh Duo. Daging kerbau akan dimasak oleh anak kemenakan dan kemudian disajikan dan dimakan bersama di Kantor KAN Alam Pauh Duo di Luak Kapau pada Minggu (08/10/2023).

Banner Pemkab Muba Idul Fitri 1445 H

Seluruh ritual ini menunjukkan nilai kebersamaan, kekompakan, dan gotong-royong yang masih diterapkan oleh masyarakat Luak Kapau khususnya, dan Solok Selatan pada umumnya. Mengingat kegiatan ini juga dilaksanakan di wilayah lainnya di Solok Selatan.

Bupati Solok Selatan yang diwakili Sekdakab Dr. Syamsurizaldi mengatakan tradisi mambantai kabau nan gadang, turun kasawah merupakan warisan budaya yang secara turun-temurun terus dilaksanakan oleh masyarakat Solok Selatan.

”Kegiatan ini, tidak hanya sebagai bentuk rasa syukur terhadap hasil bumi yang telah diberikan. Lebih dari itu, tradisi ini mengajarkan kita akan nilai kebersamaan, kekompakan dan gotong royong,” kata Syamsurizaldi.

Dari kegiatan ini juga menunjukkan bahwa kekompakan dan kebersamaan tidak ada yang tidak bisa kita lakukan dan tidak ada yang tidak bisa kita bangun.

“Prinsip ini pulalah yang diterapkan pemerintah dalam membangun Kabupaten Solok Selatan. Semua lapisan harus ikut terlibat dan turut serta memberikan kontribusi terhadap pembangunan Kabupaten Solok Selatan,” paparnya.

Lebih lanjut Sekdakab turut menyampaikan kindisi alam dengan fenomena El Nino. Fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur. Pemanasan SML ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan mengurangi curah hujan di wilayah sekitarnya, termasuk di Indonesia.

“El Nino memiliki dampak yang beragam. Di Indonesia secara umum dampak dari El Nino adalah kondisi kering dan berkurangnya curah hujan. Suhu udara yang panas bisa menyebabkan kebakaran hutan yang menghasilkan kabut asap,” pungkasnya.

(sus)

Kami Hadir di Google News