Mjnews.id – Pagi di Desa Krangean, Kecamatan Kertanegara, kini bukan sekadar awal hari. Bagi warga dan Satgas TMMD Reguler ke-128 Kodim 0702/Purbalingga, Jawa Tengah, pagi menjadi waktu paling menentukan untuk mengejar target pembangunan sebelum terik matahari meninggi dan cuaca berubah tak menentu.
Sejak matahari belum sepenuhnya naik, aktivitas sudah bergerak cepat. Warga, anggota Satgas, hingga perangkat desa berdiri berjejer membentuk rantai kerja, memindahkan adonan semen dari molen ke pondasi yang telah disiapkan. Setiap adonan selesai diolah, ember demi ember langsung berpindah tangan tanpa jeda, menjaga ritme kerja tetap cepat dan stabil.
Salah satu anggota Satgas TMMD, Sertu Riyadi, mengatakan pola kerja ini sengaja dimaksimalkan sejak pagi. Kondisi lapangan yang mudah becek saat siang hingga sore hari, terutama ketika hujan turun, menjadi pertimbangan utama.
“Kalau tidak dimaksimalkan sejak pagi, biasanya siang atau sore sudah hujan. Kalau terlalu siang juga tenaga mulai berkurang, jadi memang harus dikejar dari awal,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).
Menurutnya, pola kerja tersebut sudah dipahami bersama. Tanpa banyak arahan, warga dan Satgas langsung bergerak mengambil peran masing-masing. Alur kerja yang terbentuk secara alami ini membuat proses pembangunan berjalan lebih efektif dan minim hambatan.
Rantai kerja yang tersusun rapi tidak hanya mempercepat distribusi adonan semen, tetapi juga membantu menjaga kualitas pekerjaan. Setiap ember yang berpindah tangan menjadi bagian dari upaya bersama untuk memastikan pondasi yang dibangun kuat dan tahan lama.
“Alhamdulilah, meski kerjanya cepat, suasana di lapangan tetap santai. Kadang warga masih sempat ngobrol ringan, istirahat sambil menikmati kopi sejenak, terus lanjut kerja lagi. Alhamdulilah semua juga sudah paham kalau waktu itu penting untuk mengejar penyelesaian pembangunan,” tambahnya.
Pagi itu, di antara tumpukan material dan suara mesin molen yang terus berputar, tersimpan target besar yang ingin dicapai. Pembangunan yang dikebut sejak pagi diharapkan mampu selesai tepat waktu, sehingga manfaatnya segera dirasakan masyarakat.
Bagi warga Desa Krangean, percepatan ini bukan sekadar mengejar target pekerjaan. Lebih dari itu, ada harapan akan akses jalan yang lebih layak, yang nantinya akan mempermudah aktivitas sehari-hari, membuka konektivitas antarwilayah, hingga mendorong perekonomian desa.
Dengan memaksimalkan waktu sejak pagi, Desa Krangean menunjukkan bahwa keterbatasan kondisi bukan menjadi penghalang. Justru dari situ lahir strategi dan semangat untuk terus bergerak lebih cepat demi menghadirkan perubahan yang nyata.
(*)












