BeritaKabupaten Dharmasraya

Saat Senja Ramadan, Para Jurnalis Dharmasraya Menemukan Kembali Makna Kebersamaan

403
×

Saat Senja Ramadan, Para Jurnalis Dharmasraya Menemukan Kembali Makna Kebersamaan

Sebarkan artikel ini
Sekretariat Wartawan Bersatu Dharmasraya (Sekber) berbuka puasa bersama
Sekretariat Wartawan Bersatu Dharmasraya (Sekber) berbuka puasa bersama. (f/sutan sari alam)

Mjnews.id – Senja itu turun perlahan di langit Dharmasraya. Cahaya merah menyala seperti menahan lelah panjang perjalanan sang surya, seakan enggan benar-benar pergi.

Di sela sunyi yang mulai merambat, suara senandung jangkrik mengambil alih, menjadi pengantar menuju satu momen yang selalu dinanti, detik-detik berbuka puasa pada Selasa (17/03/2026).

ADVERTISEMENT

Di ujung sebuah jalan sederhana, satu per satu kendaraan berhenti. Tak ada gedung megah, tak ada karpet merah, hanya sebuah kedai kecil bernama Kadai Susi, tempat yang bagi sebagian orang mungkin biasa saja, namun bagi para jurnalis yang tergabung dalam Sekretariat Wartawan Bersatu Dharmasraya (Sekber), ia lebih dari sekadar warung kopi. Ia adalah rumah kedua.

Di sanalah cerita-cerita lahir. Dari gelas kopi yang mengepul, dari obrolan yang kadang hangat, kadang memanas. Di meja kayu sederhana itu, ide liputan dirancang, berita ditajamkan, bahkan perdebatan panjang menemukan titik temu. Malam itu, kedai tersebut menjadi saksi kebersamaan yang lebih dalam bukan soal berita, melainkan soal rasa.

“Kok disiko tampek babuko, ndak ado tampek lain?” celetuk Piliyang dari Singgalang, dengan nada setengah menggoda, setengah bertanya.

Belum sempat suasana mencair, H. Habibi dari Khazanah menyambut santai.

“Silahkan duduk dulu, baru bertanya,” katanya sambil tersenyum tipis.

Tawa kecil pun pecah. Sederhana, tapi hangat.

Di tengah suasana itu, Koordinator Sekber, Ridwan Syarif, menyampaikan sesuatu yang lebih dari sekadar alasan memilih tempat.

“Ini bukan soal tempat, tapi soal makna. Ramadan mengajarkan kesederhanaan. Di tengah kondisi yang tidak mudah, kita harus mulai mengurangi yang seremonial dan berbiaya besar. Yang penting itu kebersamaan dan substansi,” ucapnya tenang.

Kalimat itu menggantung di udara, tapi terasa sampai ke hati.

Memang, di balik profesi yang sering kali menuntut kecepatan dan ketajaman, para jurnalis ini adalah manusia-manusia yang setiap hari bergulat dengan perbedaan.

Perbedaan sudut pandang, perbedaan cara melihat fakta, bahkan tak jarang perdebatan keras dalam menyikapi sebuah isu. Namun malam itu, semua luruh.

Buka bersama itu bukan sekadar mengisi perut setelah seharian berpuasa. Ia menjadi ruang untuk merawat silaturahmi, menyambung kembali benang-benang yang mungkin sempat merenggang.

Plt PWI Dharmasraya, Yahya, mengingatkan peran penting yang mereka emban.

“Sekber ini bukan hanya wadah berkumpul. Kita punya tanggung jawab besar membangun daerah, menjadi kontrol sosial, sekaligus mencerdaskan masyarakat. Karena itu, hindari hoaks. Jaga keseimbangan informasi,” tegasnya.

Sementara itu, Habibi menambahkan, bahwa para jurnalis yang tergabung dalam Sekber bukanlah orang sembarangan. Mereka telah mengantongi sertifikasi kompetensi dari Dewan Pers, dari jenjang muda hingga utama sebuah penanda bahwa profesi ini dijalani dengan kesungguhan.

Namun pada akhirnya, semua gelar dan kompetensi itu seakan tak berarti di hadapan satu momen paling sederhana, saling memaafkan.

Tak lebih dari sepuluh orang yang hadir malam itu. Tapi kehangatan yang tercipta terasa penuh.

Di antara cahaya lampu kedai yang temaram, satu per satu saling berjabat tangan. Kata-kata yang mungkin sederhana, tapi sarat makna pun terucap.

“Kok ado talantuang ka naik, tagisie ka turun, ampun jo rela tolong dimaafkan… Mohon maaf lahir dan batin,” ucap Feri Piliang pelan, sebelum melangkah pergi.

Satu per satu yang lain menyusul. Zulfia Anita, Maryadi, Maya, Roni Aprianto, Ilka Saputra, hingga Sutan Sari Alam meninggalkan kedai kecil itu, membawa pulang sesuatu yang tak terlihat, tapi terasa.

Bukan sekadar kenyang.
Melainkan rasa bahwa di tengah kerasnya dunia jurnalistik, masih ada ruang untuk saling memahami, untuk kembali menjadi manusia yang utuh.

Dan di Kadai Susi, malam itu, kebersamaan itu menemukan maknanya.

(Sutan)

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT