Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip, Septa Mukhtamar, S.E., M.M., dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konseptual dan praktikal mengenai literasi digital serta membahas strategi penerapannya dalam konteks lokal.
Literasi digital kini menjadi keterampilan utama yang harus dimiliki masyarakat modern, khususnya di tengah maraknya hoaks, perundungan daring, dan rendahnya kesadaran akan pentingnya keamanan data pribadi. Kami mendorong tumbuhnya budaya literasi digital yang tidak hanya cerdas secara informasi, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai lokal, jelasnya.
Ia juga menekankan peran generasi muda sebagai agen perubahan yang strategis dalam mengembangkan budaya literasi yang adaptif terhadap era digital. Disampaikan pula bahwa pada tahun 2024, sebanyak 33 TBM telah menerima bantuan dari Perpustakaan Nasional. Sedangkan pada tahun 2025, selain bantuan kepada 30 TBM, juga diserahkan bantuan replika untuk Perpustakaan Kampung “Pelita Bangsa” serta rekomendasi bantuan untuk lima perpustakaan khusus, termasuk di lingkungan lembaga pemasyarakatan.
“Kami akan terus berupaya agar semakin banyak TBM dan perpustakaan yang memperoleh bantuan. Literasi tidak dapat tumbuh sendiri, tetapi membutuhkan ruang, peran, dan kolaborasi. Oleh karena itu, kemitraan antara institusi pemerintah dan para penggiat literasi sangat penting sebagai pusat ilmu dan penggiat literasi sebagai agen perubahan akan menciptakan masyarakat yang literat, toleran, dan berdaya saing,” ujar Septa.
(ton)












