BeritaKesehatanKota Padang

Cerita Pilu Wartawan Indra Sakti Nauli: Bobroknya Pelayanan Kesehatan, Nyawa Tak Tertolong Karena Birokrasi, Petugas Tanpa Empati

713
×

Cerita Pilu Wartawan Indra Sakti Nauli: Bobroknya Pelayanan Kesehatan, Nyawa Tak Tertolong Karena Birokrasi, Petugas Tanpa Empati

Sebarkan artikel ini
Wartawan senior Indra Sakti Naul bersama istri
Wartawan senior Indra Sakti Naul bersama istri. (f/ist)

Dalam kebingungan, sang istri menggenggam tangan suaminya yang mulai lemas. Harapan mulai retak, tapi ia belum menyerah.

Sampai di RSUP M. D***mil, rumah sakit rujukan terbesar di Sumatera Barat, sang istri kembali percaya bahwa pertolongan akan datang. Namun kenyataan berkata lain.

ADVERTISEMENT

Ruang IGD dipenuhi para dokter muda koas yang datang silih berganti, mengajukan pertanyaan yang sama, memotret wajah suaminya, mencatat hasil pemeriksaan—tanpa tindakan apa pun.

Setengah jam berlalu. Nafas suaminya semakin berat. Saat sang istri bertanya tentang langkah selanjutnya, seorang di antara mereka menjawab enteng, “Bapak dirujuk ke poli THT saja, Bu.”

Dengan hati remuk, ia membawa suaminya ke lantai tiga menggunakan kursi roda. Namun di bagian pendaftaran, ia kembali terbentur dinding birokrasi.

“Mana surat rujukan dari faskes, Bu?” tanya petugas.

“Saya dari IGD, disuruh ke sini,” jawabnya pelan.

“Kalau tak ada rujukan, tak bisa daftar,” jawab petugas ketus.

Ia hampir tak percaya. Di depan matanya, suaminya yang sedang sekarat harus menunggu hanya karena selembar kertas. Ia sempat menawar untuk mendaftar secara umum. Biayanya Rp210 ribu, belum termasuk obat dan tindakan. Tapi suaminya sudah terlalu lemah untuk bicara.

“Ndak bisa ayah kasih pendapat kini, do…” katanya lirih, dengan mata yang sudah sayu.

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT