Prosesi pemotongan kue Dies Natalis menjadi simbol keberlanjutan organisasi. Potongan pertama diserahkan kepada Ketua HMI pertama Dharmasraya, Deniansyah Sayuti, diikuti kepada jajaran alumni seperti Sekretaris Umum MD KAHMI Dharmasraya Rifdal Fadli serta dewan pakar dan penasehat organisasi.
Kehadiran alumni menunjukkan kuatnya jaringan organisasi, tetapi sekaligus menjadi pengingat bahwa kader muda harus mampu berdiri mandiri dan tidak kehilangan daya kritisnya.
Rifdal Fadli mengapresiasi keberlangsungan pengkaderan yang terus dijaga oleh pengurus cabang dan komisariat.
Kekuatan HMI pada proses kaderisasi yang berkelanjutan
Sementara itu, penasehat HMI Irsad Hamid menegaskan bahwa kekuatan organisasi terletak pada proses kaderisasi yang berkelanjutan. Pesan tersebut relevan, namun tantangan terbesar bukan sekadar menjaga kuantitas kader, melainkan memastikan kualitas intelektual dan keberanian moral tetap terpelihara.
Di tengah kondisi sosial-politik daerah yang sering kali minim partisipasi publik, mahasiswa memiliki ruang strategis untuk menjadi jembatan aspirasi masyarakat. Pengkaderan seharusnya tidak hanya melatih kemampuan organisasi, tetapi juga mengasah sensitivitas sosial dan keberanian menyampaikan kritik berbasis data.
Kegiatan ditutup dengan lantunan Hymne HMI dan lagu syukur yang dinyanyikan bersama para kader dan alumni. Namun perayaan Dies Natalis ke-79 ini meninggalkan pertanyaan penting, apakah kader mahasiswa hari ini masih mampu menjadi suara masyarakat, atau justru terjebak dalam kenyamanan seremoni dan kedekatan kekuasaan?.
Bagi HMI Dharmasraya, usia 79 tahun bukan sekadar perayaan sejarah panjang, tetapi ujian relevansi. Di tengah perubahan sosial dan dinamika politik daerah, kader mahasiswa dituntut kembali ke akar perjuangannya, menjadi intelektual muda yang berani berpikir kritis, bersuara jujur, dan berdiri bersama masyarakat.
(Sutan)












