Ia mengaku melakukan tindakan ini, untuk kebaikan putrinya. Apalagi pergaulan bebas saat ini, bisa menjerumuskan anak pada perilaku negatif.
“Saya pesan pada anak saya, agar jangan mengumpan kucing dengan ikan. Artinya, jangan pancing laki-laki untuk melakukan maksiat,” tambahnya.
Terkait dengan banyaknya kasus kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur yang dilakukan oleh pacarnya sendiri, menurutnya karena terlalu bebas pacaran. Orang tua pengawasannya lemah, sehingga terbuka kesempatan.
“Makanya saya minta sekali pada anak-anak perempuan saya dapat pacaran melalui media sosial. Sebagian lagi pacaran satu sekolah. Keduanya ia lihat sama merepotkan dan menyita waktu serta tenaga.
“Saya hanya iseng aja pacaran,” kata Siska, siswi SMA lainnya.
Ia mengaku malu menceritakan apa saja yang telah dilakukan semasa pacaran. Penyesalan menurutnya tak berguna, jika satu saat nanti dibuat kembali.
Hanya kini ia mengaku sudah putus dan bertekad untuk konsentrasi belajar. Akibat pacaran, nilainya menjadi jeblok dan ia dimarahi di rumah.
Sementara Ustadz Episantoso mengatakan, tak ada istilah pacaran dalam Islam. Tak ada satupun dalil yang bisa melegalkan pacaran.
“Pacaran adalah budaya jahiliyah yang ditiru umat Islam yang miskin pengetahuan,” katanya.
Islam sangat melarang campur aduk antara laki-laki dan perempuan, haram hukumnya. Maka dari itu, setiap remaja Islam harus diingatkan tentang hal ini.
“Pacaran sangat dekat dengan maksiat dan menjadi pintu masuk perbuatan zina,” ujarnya.
Banyaknya kejahatan seksual saat ini, merupakan efek buruk pacaran. Ibarat bertepuk, ia tak bisa sebelah tangan. Maka dari itu, iman remaja Islam harus kuat, agar tak tergoda pacaran. Pelajari agama baik-baik dan amalkan, agar mendapat petunjuk yang benar dalam hidup.







