Dalam beberapa tahun terakhir, partisipasi anak muda dalam politik menjadi topik perbincangan hangat. Ada yang memandang mereka sebagai harapan dan gagasan baru, ada pula yang memandang mereka apatis dan acuh tak acuh terhadap persoalan politik.
Oleh: Muhammad Hafiz Aulia
Mjnews.id – Namun kenyataannya mungkin tidak sesederhana itu. Generasi muda saat ini tumbuh di era informasi yang cepat dan terbuka. Mereka terpapar pada berbagai isu global dan nasional melalui media sosial dan platform digital lainnya. Hal ini membuat masyarakat lebih sadar akan isu-isu sosial, lingkungan dan politik. Banyak di antara mereka yang sangat vokal dan terlibat dalam kegiatan sosial seperti perubahan iklim dan hak asasi manusia.
Di sini kita melihat orang-orang kuat yang mencari perubahan nyata dan bertahan lama. Namun di sisi lain, ada pula yang meragukan politik normal. Mereka sering melihat korupsi, ketidakadilan, dan permainan kekuasaan di ranah politik. Kekecewaan ini seringkali membuat mereka memilih untuk menjauh dari politik yang efektif, karena percaya bahwa perubahan tidak akan terjadi dengan sistem yang ada saat ini. Hal ini sering digambarkan sebagai sikap apatis.
Menariknya, ketidakpedulian ini tidak berarti ketidakpedulian. Banyak anak muda yang memilih cara-cara non-politik untuk mengekspresikan dan menerapkan perubahan. Mereka terlibat dalam usaha sosial, organisasi non-pemerintah atau kegiatan masyarakat yang berfokus pada isu-isu tertentu.
Oleh karena itu, mereka berusaha melakukan sesuatu tanpa terlibat dalam politik resmi. Masalahnya adalah perubahan struktural yang besar memerlukan komitmen politik yang aktif. Sulit mengharapkan munculnya dan reformasi kepemimpinan tanpa partisipasi pemuda dalam proses politik. Itulah mengapa sangat penting untuk menemukan cara untuk membuat politik lebih menarik bagi generasi muda.
Reformasi pemilu, transparansi dan pendidikan politik yang lebih baik dapat menjadi langkah-langkah untuk memecahkan masalah ini. Di sisi lain, generasi muda juga harus menyadari bahwa meskipun proses perubahan sulit dan sering kali penuh hambatan, namun peran mereka sangat penting.
Meskipun ide-ide mereka dapat menjadi sumber energi untuk membawa perubahan, pengalaman dan kebijaksanaan generasi tua juga dapat menjadi panduan yang berharga. Terakhir, tidak ada jawaban pasti terhadap pertanyaan apakah generasi muda akan memilih untuk berpikir atau tidak bereaksi. Jelas terdapat banyak peluang untuk menciptakan perubahan positif pada generasi ini.
Tantangannya adalah bagaimana mengadaptasi ide-ide mereka ke dalam cara-cara praktis untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, termasuk partisipasi politik yang aktif. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi penonton, namun juga pemain utama dalam perjalanan menuju masa depan yang lebih baik.
Penulis, Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Andalas
(*)










