pemkab muba
Opini

Menganalisis Berita Mutilasi di Padang Pariaman dengan Teori Kultivasi

77
×

Menganalisis Berita Mutilasi di Padang Pariaman dengan Teori Kultivasi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi pembunuhan mutilasi
Ilustrasi.

Hubungan Teori Kultivasi dengan Berita Mutilasi di Padang Pariaman

Mari kita bahas lagi perihal asumsi Teori Kultivasi. Menyambung dengan berita korban mutilasi yang beberapa hari lalu viral di media sosial (Selasa, 17/6/2025), ada beberapa efek kultivasi yang mungkin akan dialami oleh pengguna media sosial, seperti:

ADVERTISEMENT

1. Persepsi dunia yang negatif

Melihat dari asumsi Teori Kultivasi, paparan berita korban mutilasi membuat penonton merasa bahwa dunia penuh dengan kejahatan. Bagaimana tidak, kasus pembunuhan yang terhitung sadis tersebut tentu akan membuat kita membentuk persepsi bahwa banyak orang tidak punya hati dan tidak segan menculik lalu membunuh kita tanpa mikir panjang.

2. Ketakutan, kecurigaan, dan kecemasan yang berlebihan

Persepsi dunia yang negatif membuat penonton terpaan berita korban mutilasi menjadi ketakutan dan kecemasan berlebihan. Efek kultivasi membuat mereka berpikir bahwa bisa saja mereka dibunuh lalu dimutilasi oleh orang jahat. Apalagi pada awalnya pembunuh belum ditemukan oleh pihak kepolisian.

Hal tersebut membuat publik yang terkena terpaan berita mutilasi makin ketakutan. Efek ini juga membuat heavy viewers cemas untuk pergi keluar rumah, apalagi pada malam hari. Takut akan persepsi bahwa bisa saja mereka diculik lalu dibunuh ketika di luar nanti.

3. Efek resonansi yang kuat

Selain istilah heavy viewers dan light viewers yang dikenalkan oleh Gerbner, ada konsep kultivasi lainnya bernama resonansi. Konsep ini mengatakan bahwa apabila konten yang diperlihatkan oleh media massa benar-benar nyata atau sesuai dengan apa yang dilihat oleh penonton di dunia nyata, maka efek kultivasi akan semakin kuat.

Merujuk pada berita mutilasi di Padang Pariaman, yang namanya berita tentu akan sesuai dengan fakta di lapangan. Ditambah lagi korban dan pelakunya adalah orang beneran, bukan rekaan untuk kebutuhan film atau konten. Maka dapat disimpulkan efek kultivasinya akan semakin kuat.

Ketakutan, kecemasan, kecurigaan, dan distorsi persepsinya akan semakin kuat dialami oleh tiap individu yang menonton. Mungkin saja salah satu penonton yang terpapar sampai tidak mau keluar rumah hingga pelaku tertangkap atau setiap keluar dia akan membawa senjata tajam untuk jaga-jaga.

Maka dari itu, kita harus selalu bijak dalam menonton dan mengakses media sosial. Jangan selalu menganggap bahwa apa yang kita tonton adalah bagaimana dunia sebenarnya. Bisa saja itu hanya konten, rekayasa, atau hal yang ditampakkan di media sosial saja. Adapun pada kasus berita mutilasi di Padang Pariaman, ini adalah hal yang nyata dan faktual.

Maka dari itu, kita harus pandai mengelola kecemasan, ketakutan, dan persepsi kita dalam melihat berita tersebut. Jangan sampai masuk ke tahap resonasi dan akhirnya menjadi ketakutan untuk keluar rumah, curigaan pada semua orang, hingga membeli senjata tajam untuk jaga-jaga. Tak apa-apa cemas tapi jangan berlebihan. Tetap percaya ada aparat keamanan di dunia nyata yang siap menangkap dan mengadili pelaku kriminalitas.

Walaupun kadang pihak aparat melakukan kesalahan, tapi itu oknum. Yakin dan percayalah masih ada pihak aparat yang baik di dunia nyata.

Kepada media massa, terkhusus kepada citizen journalism di media sosial, dimohon untuk bisa selektif dalam membagikan informasi berbentuk audio-visual. Berita seperti itu bisa mengganggu pikiran dan persepsi publik sehingga mereka mudah terpapar oleh efek kultivasi.

Penulis, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

(*)

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT