OpiniKabupaten Sijunjung

Tari Baombai: Ketika Sawah Menjadi Panggung dan Gotong Royong Menjadi Nyawa Kesenian

412
×

Tari Baombai: Ketika Sawah Menjadi Panggung dan Gotong Royong Menjadi Nyawa Kesenian

Sebarkan artikel ini
Tari baombai dari Nagari Padang Laweh
Tari baombai dari Nagari Padang Laweh. (f/ist)

Kini, di sebuah panggung pertunjukan, para penari Baombai melangkah dengan pakaian hitam bundo kanduang. Di tangan mereka, cangkul kecil diangkat ke bahu, seolah mengajak penonton kembali ke masa ketika sawah bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang bermain, ruang bercerita dan ruang bernyanyi.

Gerakan-gerakan dalam tari ini bukan ilusi. Mereka benar-benar meniru gerakan petani: mencangkul, menginjak, meratakan tanah, menanam benih, hingga menyiangi gulma.

ADVERTISEMENT

Setiap hentakan kaki menghadirkan gema kehidupan, setiap ayunan cangkul menjadi pengingat betapa berat namun mulianya pekerjaan yang dilakukan para petani.

Talempong berbunyi, nyanyian bergema, dan tiba-tiba seluruh panggung terasa seperti sawah hidup yang bergerak.

Baombai adalah tarian yang membuat kita sadar bahwa estetika tidak harus lahir dari kemewahan—kadang ia lahir dari yang paling sederhana: dari kerja sama, dari keluarga besar yang saling membantu, dari jiwa yang tidak ingin hidup sendiri.

Tantangan Tari Baombai

Namun, seperti banyak tradisi lain, Tari Baombai kini menghadapi tantangan. Generasi muda banyak yang tidak lagi mengenal secara jelas tentang cara dan makna dari kesenian ini. Maka dari itu, penari Baombai mayoritas perempuan lanjut usia (lansia).

Grup-grup seni mulai surut. Yang tersisa kini hanya beberapa, termasuk Kesenian Baombai Nagari Padang Laweh yang masih gigih bertahan. Meski begitu, harapan tidak pernah benar-benar hilang.

Baombai telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada tahun 2024. Ini tentu menjadi sebuah langkah untuk mengabadikan cerita yang lahir dari sawah dan tumbuh menjadi kebanggaan masyarakat.

Pada akhirnya, tari baombai bukan sekadar gerakan tari. Ia adalah kisah tentang bagaimana sebuah nagari menjaga jati dirinya. Tentang bagaimana budaya tidak mati, selama ada yang merawatnya. Tentang bagaimana gotong royong—nilai paling luhur masyarakat Minang—bisa melahirkan kesenian yang begitu indah.

Dan seperti sawah yang tak pernah menolak hujan, semoga Baombai pun tak pernah kehilangan generasi yang mau merawatnya.

(*)

Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Baombai
https://sumbarsatu.com/berita/28780-kesenian-baombai-kreasi-b-udaya-oleh-masyarakat-nagari-padang-laweh
https://infopublik.sijunjung.go.id/amp/tari-baombai-dan-bakpo-nan-saraf-dari-sijunjung-resmi-menjadi-wbtb-indonesia-tahun-2024/

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT