Lebih lanjut ia menerangkan, kurangnya pemahaman dan akses tersebut dapat diurai kedalam empat sub masalah yakni :
1) Praktek pengasuhan yang dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan orang tua tentang kesehatan gizi pada sebelum dan dalam masa kehamilan serta sesudah melahirkan;
2) Pelayanan pemeriksaan kehamilan yang kurang berkualitas;
3) Akses ke makanan bergizi yang masih kurang, karena harga yang relatif mahal;
4) dan kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi yang dapat mempengaruhi terjadinya infeksi berulang yang berdampak pada perkembangan anak.
“Semoga para mahasiswa KKN dapat menjadi bagian dalam upaya penanganan stunting, khususnya pada desa-desa di wilayah Sumbar,” harap Bonivasius.
Ia mengaku bangga dan mengapresiasi langkah yang dilakukan Unand yang telah menunjukkan kepeduliannya terhadap upaya penanganan Stunting di Sumbar. Ia juga berharap, semoga kedepan perguruan tinggi lainnya dapat mengikuti apa yang telah dilakukan Unand.
(adpsb)












