pemkab muba
Opini

Halal Bukan Sekadar Label, Indonesia Siap Pimpin Revolusi Ekonomi Syariah Global

878
×

Halal Bukan Sekadar Label, Indonesia Siap Pimpin Revolusi Ekonomi Syariah Global

Sebarkan artikel ini
Muhammad Rafif Gifari

Indonesia saat ini berada pada titik strategis untuk menentukan arah masa depan ekonominya. Dengan jumlah umat muslim terbesar di dunia, Indonesia bukan hanya menjadi pasar halal yang luas, tetapi juga memiliki peluang besar untuk tampil sebagai produsen utama di tingkat global.

Oleh : Muhammad Rafif Gifari, SM

Mjnews.id – Potensi ini sejalan dengan target Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pertumbuhan ekonomi sebesar delapan persen pada tahun 2029, di mana industri halal diharapkan menjadi salah satu motor penggeraknya.

ADVERTISEMENT

Capaian Indonesia dalam peta ekonomi syariah dunia semakin memperkuat optimisme tersebut. Laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2024/2025 menempatkan Indonesia di posisi ketiga dalam Global Islamic Economy Indicator. Pencapaian ini menunjukkan bahwa Indonesia bukan lagi sekadar konsumen, melainkan mulai diakui sebagai kekuatan penting dalam ekosistem industri halal global.

Dalam konteks ketidakpastian ekonomi dunia akibat dinamika geopolitik, krisis iklim, dan revolusi teknologi, keunggulan ini merupakan modal penting untuk memperkuat daya tahan sekaligus daya saing nasional.

Dari sisi kinerja, tren ekspor produk halal Indonesia mencatat perkembangan positif. Sepanjang tahun 2024, nilai ekspor produk halal mencapai 51,4 miliar dolar AS atau tumbuh 1,70 persen dibanding tahun sebelumnya. Bahkan, peningkatan ekspor produk halal mencapai 7,08 persen, dengan sektor makanan dan minuman sebagai penyumbang utama, yakni lebih dari 80 persen.

Data dari Bank Indonesia juga menunjukkan pangsa pasar produk halal Indonesia secara global telah mencapai 11,34 persen pada 2023 dan ditargetkan menembus 15 persen pada 2025.

Fakta ini menggambarkan bahwa industri halal sudah bergerak melampaui sekadar identitas, melainkan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi.

Selain sebagai motor ekonomi industri, halal juga memiliki dimensi lain yang tidak kalah penting: daya tarik wisata. Konsep wisata halal kini menjadi tren global yang semakin diminati wisatawan mancanegara, tidak hanya dari negara berpenduduk mayoritas muslim tetapi juga dari negara non-muslim.

Wisatawan mencari destinasi yang tidak hanya menawarkan keindahan alam dan budaya, tetapi juga menjamin kenyamanan dalam aspek halal, mulai dari kuliner, akomodasi, hingga layanan pendukung. Indonesia, dengan kekayaan budaya dan alam yang melimpah, memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi utama wisata halal dunia. Integrasi antara industri halal dan sektor pariwisata akan memperluas dampak ekonomi, meningkatkan devisa, serta memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem halal global.

Namun, jalan menuju episentrum industri halal dunia tidak tanpa hambatan. Pemahaman pelaku usaha, khususnya UMKM, mengenai sertifikasi halal masih terbatas. Proses sertifikasi kerap dianggap berbelit dan mahal, sementara kapasitas lembaga sertifikasi belum mampu mengimbangi tingginya kebutuhan pasar.

Basis data pelaku usaha halal yang terintegrasi juga belum optimal, sehingga kebijakan sering kali kurang tepat sasaran.

Di sisi lain, negara-negara pesaing seperti Malaysia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab telah lebih dulu membangun ekosistem halal yang kuat melalui kebijakan progresif, inovasi, dan promosi global yang agresif.

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT