Opini

Cinta Beda Adat: Mengapa Gen Z Minang Semakin Berjarak dengan Tradisi Pernikahan Leluhurnya?

13
×

Cinta Beda Adat: Mengapa Gen Z Minang Semakin Berjarak dengan Tradisi Pernikahan Leluhurnya?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Pernikahan beda adat
Ilustrasi.

Di era serba digital saat ini, generasi muda Minangkabau (khususnya usia 20-30 tahun) ternyata semakin kehilangan pemahaman tentang tradisi pernikahan adat mereka sendiri.

Oleh: M. Zikhri

Mjnews.id – Memudarnya nilai budaya ini mendorong sebuah kajian menarik yang meneliti bagaimana Gen Z merespons konflik adat melalui film indie lokal berjudul Salisiah Adaik (Selisih Adat). Tujuannya adalah untuk melihat apakah anak muda masa kini masih menganggap aturan adat sebagai pedoman hidup yang sakral, atau sekadar melihatnya sebagai “warisan kuno” yang bisa dinegosiasikan.

ADVERTISEMENT

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan sebuah observasi di kalangan mahasiswa, banyak anak muda asal Pariaman dan Payakumbuh yang hanya mengetahui istilah tradisi pernikahan mereka sebatas nama, tanpa memahami makna atau prosesi detail di baliknya. Arus internet dan budaya pop telah mengubah cara pandang mereka menjadi lebih modern, sehingga adat istiadat sering kali hanya dijadikan sekadar simbol, sementara esensinya mulai tergerus.

Belajar dari Konflik Film Salisiah Adaik

Untuk melihat bagaimana Gen Z memaknai benturan tradisi tersebut, film Salisiah Adaik garapan sutradara Ferdinand Almi menjadi media yang sempurna. Mengambil latar tahun 1950-an, film ini menyajikan drama percintaan yang kandas bukan karena ketiadaan restu personal, melainkan karena tembok adat yang kelewat tinggi.

Kisah ini berpusat pada Muslim, seorang pemuda pembuat perhiasan asal Pariaman, yang jatuh cinta pada Ros, gadis asal Payakumbuh. Sayangnya, niat baik Muslim untuk melamar Ros ditolak mentah-mentah oleh ibunda Ros, Mak Tini.

Sang ibu menegaskan bahwa ia tidak membenci Muslim secara pribadi, melainkan adat wilayah asal mereka berdua benar-benar tidak bisa disatukan. Di sinilah terlihat bahwa dalam budaya Minangkabau, urusan pernikahan bukanlah sekadar soal dua hati yang saling mencintai, melainkan urusan kolektif yang dikendalikan oleh otoritas adat.

Selain orang tua, film ini juga menyoroti peran sentral seorang Mamak (paman dari pihak ibu). Dalam sistem kekerabatan matrilineal Minangkabau, Mamak adalah sosok pengambil keputusan tertinggi yang bertugas menjaga martabat suku, termasuk mengurus pernikahan keponakannya. Namun, di dunia nyata saat ini, figur dan otoritas Mamak sudah mulai meredup tergerus gaya hidup keluarga modern yang lebih individualis.

Akar Masalah: Bajapuik vs Maisi Sasuduik

Bagi pembaca yang mungkin bingung mengapa Mak Tini begitu menentang hubungan tersebut, alasannya terletak pada dua tradisi pernikahan yang sangat bertolak belakang antara Pariaman dan Payakumbuh:

  • Adat Bajapuik (Pariaman): Dalam tradisi ini, pihak keluarga perempuanlah yang harus “menjemput” calon pengantin pria dengan memberikan sejumlah uang atau emas (pitih bajapuik). Nominalnya dulu ditentukan oleh gelar kebangsawanan, namun kini sering kali diukur dari tingkat pendidikan dan pekerjaan sang pria.
  • Adat Maisi Sasuduik (Payakumbuh): Berkebalikan dengan Pariaman, tradisi ini justru mewajibkan pihak laki-laki untuk memberikan uang (uang suduik) atau mengisi perlengkapan kamar calon istrinya. Ini adalah simbol untuk melihat tanggung jawab dan kesiapan finansial calon suami.

Ketika dua aturan yang berlawanan ini dipertemukan, wajar saja jika memicu “selisih adat” yang pelik.

Melalui kisah cinta Muslim dan Ros, film ini tidak hanya menjadi tontonan yang menghibur, tetapi juga memotret kekayaan sekaligus kerumitan budaya lokal, yang kini nasib pelestariannya berada di tangan generasi muda.

Penulis, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas (Unand) Padang

(*)

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT