Dalam penempatan tenaga kerja luar negeri yang dilakukan melalui Balai Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) dan juga BP3MI, ia menyebutkan juga terus menunjukkan peningkatan, pada tahun 2021 sebanyak 13 orang dikirim bekerja ke luar negeri, tahun 2022 sebanyak 571 orang, tahun 2023 sebanyak 875 orang dan diharapkan pada tahun ini jumlahnya akan terus meningkat.
“Malaysia menjadi negara terbanyak yang menerima tenaga kerja Sumbar, diurutan kedua Jepang. Namun ada juga ke beberapa negara lainnya, seperti Jerman dan Australia. Kebanyakan tenaga kerja tersebut bekerja di sektor formal, untuk informal banyak di Australia, mereka bekerja sambil berlibur di sana,” terangnya.
Tio (27) sebagai salah seorang yang belum memiliki pekerjaan tetap di Sumbar, ia mengatakan peluang kerja di Sumbar sebetulnya banyak, tapi memang sebagian besarnya berada di sektor non formal. Salah satu penyebab utama dari masih banyaknya angkatan kerja yang belum memiliki pekerjaan tetap adalah faktor psikologis.
“Sebetulnya peluang kerja itu ada, tapi sebagai seorang sarjana dengan usia yang belum 30 tahunan, kadang kita gengsi untuk bekerja di sektor non formal. Toh peluang PNS dan BUMN masih terbuka,” ungkapnya.
Ia meyakini, psikologis yang sama juga terjadi di angkatan kerja yang lain. Ia juga mengaku selalu hadir bersama teman-temannya dalam setiap kegiatan job fair yang diselenggarakan pemerintah daerah, meski pun dirinya tidak mengambil kesempatan dalam kegiatan tersebut.
“Dalam setiap kegiatan Job fair saya dan teman-teman hadir, tapi hanya melihat-lihat, kami hanya memastikan apakah ada peluang bekerja di BUMN atau tidak,” pungkas Tio.
(adpsb)












