Mjnews.id – Langit pagi di Sialanggaung, Kecamatan Koto Baru, Senin itu tampak teduh. Angin berembus pelan di halaman Masjid Ihsan, seolah ikut menjaga suasana sakral yang sedang berlangsung di dalamnya. Di antara deretan tamu dan keluarga yang hadir, ada seorang ayah yang pagi itu sedang belajar satu hal paling sulit dalam hidupnya, merelakan.
Ridwan Syarif Dt Majo Kayo, Wakil Ketua I Baznas Dharmasraya, duduk tenang di depan penghulu. Wajahnya tampak tegar, meski sorot matanya tak mampu sepenuhnya menyembunyikan gelombang haru yang datang silih berganti.
Di hadapannya, putri pertama yang selama ini dibesarkan dengan kasih sayang, doa, dan penjagaan seorang ayah, kini bersiap memulai kehidupan baru bersama lelaki pilihannya.
Pagi itu bukan sekadar akad nikah bagi Annisa Mutiara Ridwan. Itu adalah pagi ketika seorang ayah menyerahkan amanah terbesar dalam hidupnya kepada laki-laki lain, seorang laki-laki yang dipercaya akan menjaga putrinya sebagaimana ia menjaganya sejak kecil.
Suasana di dalam masjid mendadak begitu hening ketika prosesi ijab kabul dimulai. Tak ada suara selain lantunan akad yang perlahan keluar dari bibir Ridwan Syarif. Kalimat itu terdengar sederhana, namun bagi seorang ayah, itulah kalimat paling berat yang pernah diucapkan, melepas anak perempuan yang dulu digendongnya saat menangis, dituntunnya saat belajar berjalan, dan didoakannya diam-diam dalam setiap sujud malam.
Di sudut ruangan, beberapa anggota keluarga tampak menyeka air mata. Haru seperti menular dari satu hati ke hati lainnya. Sebab semua orang tahu, di balik senyum seorang ayah saat menikahkan putrinya, ada rasa kehilangan yang tak pernah benar-benar bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Kepala KUA Kecamatan Koto Baru, Darus, S.Ag, yang bertindak sebagai penghulu, menyampaikan nasihat perkawinan dengan suara lembut namun dalam maknanya.
“Menikah merupakan bagian dari sunnah Rasulullah SAW dan jalan untuk menyempurnakan agama serta menjaga kehormatan diri,” tuturnya.
Ia berharap kedua mempelai mampu membangun rumah tangga yang sakinah, penuh keberkahan, serta kuat menghadapi berbagai ujian kehidupan dengan kesabaran dan keimanan.
Namun pagi itu, nasihat tentang rumah tangga seolah bukan hanya ditujukan kepada kedua mempelai. Ia juga menjadi pengingat tentang perjalanan panjang cinta seorang ayah cinta yang tak banyak bicara, tetapi selalu hadir dalam bentuk pengorbanan.







