pemkab muba
Opini

Tanda Tanya di Tengah Derasnya Banjir: Apakah Kita Siap Hidup di Negeri Rawan Bencana?

611
×

Tanda Tanya di Tengah Derasnya Banjir: Apakah Kita Siap Hidup di Negeri Rawan Bencana?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi banjir bandang di Kota Padang
Ilustrasi. (f/ist)

Trauma yang Tak Terukur oleh Statistik

Banjir bandang tak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tapi juga trauma psikologis yang mendalam. Anak-anak yang dulu bermain di sungai kini takut mendekat. Teman-teman sejawat yang seharusnya menempuh pendidikan kini harus mengatur ulang hidup mereka karena rumah hilang atau rusak berat. Bahkan ketika sekolah kembali dibuka, banyak dari kami yang sulit fokus karena pikiran masih terbang pada keluarga dan rumah yang menjadi puing. Ini adalah luka yang tidak mudah diukur oleh angka statistik manapun.

Banyak yang mulai menyuarakan bahwa kita perlu membangun kembali bukan hanya infrastruktur, tetapi juga ketahanan sosial dan psikologis masyarakat. Bantuan sosial seperti pembangunan hunian sementara atau kampung baru bagi korban telah diinisiasi oleh tokoh dan relawan, menunjukkan bahwa solidaritas sesama warga adalah salah satu kekuatan kita untuk bangkit.

ADVERTISEMENT

Menatap Masa Depan: Siapkah Kita?

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin menegaskan bahwa hidup di negeri dengan ancaman bencana adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari tetapi ketidaksiapan adalah pilihan yang harus kita tolak. Kita perlu perencanaan ruang yang menghormati ekosistem, penguatan pendidikan mitigasi bencana sejak usia dini, serta kebijakan pemerintah yang benar-benar mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dengan praktik lapangan.

Kalau kita tak memperbaiki tata kelola hutan, mengabaikan keseriusan perubahan iklim, dan terus memberi ruang tanpa kontrol terhadap aktivitas yang merusak lingkungan, maka banjir bandang hanyalah satu dari banyak bencana besar yang akan datang berikutnya.

Sebagai anak muda yang tumbuh dan belajar di negeri ini, saya berharap suara kami yang merasakan langsung derita dan kehilangan tidak hanya menjadi catatan sejarah.

Semoga suara itu menjadi alasan kuat untuk perubahan nyata. Karena jika kita tetap pasrah, maka pertanyaan “Apakah kita siap hidup di negeri rawan bencana?” akan terus menggema tanpa jawaban yang meyakinkan.

Penulis, Mahasiswa Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas (Unand) Padang

(*)

Baca berita Mjnews.id lainnya di Google News

ADVERTISEMENT